“Saya telah memberitahukan tuan dan nyonya kalau rumah ini terlalu banyak misteri. Bukannya tahayul tapi kenyataan. Boleh dibilang tak ada orang yang kuat tinggal di rumah ini. Ya, termasuk saya. Saya dan keluarga hanya bertahan delapan bulan. Sebelum tuan dan nyonya menyesal, sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu.” Hariz menatap sepasang suami istri di hadapannya bergantian yang duduk di seberang meja.
Sepasang suami istri di depan Hariz sebenarnya duda dan janda yang dipersatukan dalam ikatan perkawinan. Keduanya menikah enam tahun yang lalu dengan membawa masing-masing anak ke dalam perkawinan mereka. Si suami bernama Lucas (43 tahun) yang membawa dua anak laki-laki yaitu Raymond (23 tahun) dan Daniel (20 tahun). Sementara si istri bernama Hanna (40 tahun) yang membawa satu anak perempuan bernama Adelia (18 tahun). JUDI ONLINE SLOT
“Keluarga kami tidak percaya tahayul. Kami lebih percaya pada logika. Bagaimana anda bisa percaya akan adanya
tahayul atau hal-hal mistis di jaman internet seperti sekarang ini?” Ucap Lucas sambil tersenyum geli, karena hal-hal seperti ini sangat tidak masuk akal baginya.
Hariz tersenyum miris. Sebenarnya dia merasa tidak tega. Namun sebagai manusia yang masih memerlukan uang, dengan sangat terpaksa Hariz membiarkan rumah penuh misteri miliknya dijual kepada Lucas dan Hanna. Hariz pun menyodorkan dua eksemplar surat perjanjian jual beli kepada Lucas.
“Tanda tangani surat perjanjian ini.” Ucap Hariz lemas. Tanpa berpikir panjang, Lucas pun menandatangani surat perjanjian jual beli tersebut. Setelah Hariz menerima satu eksemplar surat perjanjian jual beli yang telah ditandatangi Lucas, ia pun berkata, “Apakah tuan dan nyonya memiliki putra?”
“Kami memiliki tiga anak, dua putra dan satu putri. Sulung kami sudah menikah dan telah memiliki rumah sendiri. Dua yang lain masih lajang. Mereka masih tinggal bersama kami.” Jawab Hanna.
“Anak laki-laki yang masih serumah … Umurnya berapa?” Suara Hariz terdengar tipis dan was-was.
“Duapuluh tahun.” Suara Lucas lebih dari sedikit tajam. “Kenapa anda menanyakan itu?”
“Oh, tidak apa-apa … Hanya ingin tahu saja.” Haris tergagap sambil menggelengkan kepala. “Rumah ini mungkin akan menguji pernikahan anda.”
Bibir Hanna yang cantik dan mungil langsung melengkung merosot menjadi kerutan. Hanna meletakkan tangan kirinya di tangan kanan Lucas dan meremasnya. Hanna mulai merinding karena merasa ditakut-takuti. Cincin kawin Hanna yang besar menonjol di jari-jarinya yang halus.
“Pernikahan kami solid, Tuan Hariz. Dan ini bukan rumah pertama yang kami beli. Kami pernah tinggal beberapa kali dengan rumah yang katanya menyeramkan. Dan kami baik-baik saja.” Ucap Hanna berusaha menentramkan diri.
“Ya, aku berharap tuan dan nyonya akan tetap solid setelah tinggal di rumah ini.” Kata Hariz yang dalam hatinya sangat menyangsikan ucapannya sendiri. “Mudah-mudahan tuan dan nyonya berjodoh dengan rumah ini.”
“Em … Saya merasa kalau anda ingin mengatakan rumah ini sangat berbahaya bagi keutuhan rumah tangga kami. Sebenarnya bagaimana rumah ini?” Tanya Lucas menjadi penasaran.
“Karena anda sudah menjadi pemilik rumah ini, maka saya akan mengatakan sedikit misteri yang ada di rumah ini.” Hariz menjeda sebentar uraiannya dan langsung saja aura ketegangan menyelimuti mereka. Setelah menghela nafas, Hariz pun melanjutkan penjelasannya, “Rumah ini adalah peninggalan seorang wanita yang bernama Ibu Nuning. Beliau adalah istri dari pejabat kompeni saat kita masih dijajah Belanda. Usia rumah ini sudah lebih 300 tahun. Ya, anda boleh percaya atau tidak, Ibu Nuning selalu menampakkan dirinya di waktu-waktu tertentu.”
“He he he … Kalau Ibu Nuning menemuiku … Aku akan langsung berkenalan dengannya, dan mungkin saya akan mengajaknya berkencan. He he he …” Kata Lucas yang sama sekali tak percaya dengan ucapan Hariz, bahkan meremehkan.
“Aku harap anda tidak bertemu dengannya.” Ucap Hariz sambil bermuka sedih. “Baiklah … Karena transaksi sudah selesai, maka dengan ini saya menyerahkan surat-surat kepemilikan tanah dan bangunan pada anda.” Hariz menyodorkan sebuntel berkas kepemilikan rumah kepada Lucas.
“Terima kasih.” Ucap Lucas sembari menerima berkas-berkas kepemilikan rumah dan tanah yang baru dibelinya.
Hariz kemudian pergi dengan membawa perasaan senang sekaligus sedih. Senang karena Hariz berhasil menjual rumah misteri yang telah menghancurkan keluarga bahagianya. Sedih karena dia merasa berdosa pada Lucas dan Hanna, seolah-olah dia telah mengantarkan keluarga itu ke jurang kehancuran yang paling dalam.
“Bagaimana menurutmu, sayang?” Tanya Lucas pada Hanna.
“Aku masih kaget dengan harganya.” Hanna berjalan di samping suaminya. Terdengar bunyi berderak di bawah sepatu ketsnya. Hanna menyelipkan lengan di pinggang Lucas dan meremasnya. “Kita beruntung, sayang.” Hanna mencium pipi Lucas dan kemudian melihat kedua anak mereka yang sedang berjalan mendekat. “Kalian pasti menyukai rumah baru kita.” Lanjut Hanna pada Daniel dan Adelia.
“Wow! Kita tinggal di sini? Rumanya besar sekali.” Ucap Daniel terkagum-kagum. Daniel adalah seorang remaja tampan yang memiliki tubuh sangat ideal. Daniel memang punya badan kekar atletis, dadanya bidang serta otot-otot perutnya membentuk enam kotak mengagumkan. Banyak gadis yang merasa gemas apabila melihat pemuda itu. “Berapa kamar, Bu?” Daniel tidak bisa berpaling dari rumah barunya, memperhatikan aksen sirap sisik ikan tua dan bentuk geometris yang terukir halus di sekitar jendela. Selama dua puluh tahun, dia belum pernah melihat yang seperti ini.
“Ada empat belas ruangan, Daniel.” Hanna kembali meremas pinggang suaminya, kemudian berjalan mendekat dan berdiri di samping putranya. “Enam kamar tidur, tiga kamar mandi, ruang tamu, ruang kerja, perpustakaan, dapur, ruang makan, dan tentu saja, pintu masuk yang megah.”
“Empat belas?” Daniel menatap mata cokelat ibu tirinya yang hangat.
“Sebenarnya belum pasti, masih ada ruangan lain yang belum ibu periksa.” Hanna tersenyum padanya. “Ada kamar di sebelah ruang kerja yang terkunci. Penjualnya bilang dia tidak punya kuncinya.”
“Wow keren …” Kini Adelia bersuara. Sama seperti Daniel, gadis cantik itu terkagum-kagum dengan rumah barunya. Mata Adelia terus memperhatikan sekelilingnya. Adelia merasa takjub dan tanpa sadar mulutnya sedikit menganga.
Sebuah truk pickup melaju di jalan masuk rumah dan diparkir di samping rumah. Kakak Daniel, Raymond, melambai pada Daniel dengan gaya sinis dari kursi pengemudi. Istrinya, Nidya, melambai dan tersenyum pada Daniel juga sangat ramah. Nidya memiliki rambut hitam yang digelung ke atas, dan dia mengenakan t-shirt ketat. Daniel merasakan kurang senang dengan kedatangan Raymond, tetapi selalu mengharapkan kehadiran Nidya.
“Ya … Si brengsek datang!” Gumam Daniel sambil menatap ibu tirinya.
“Kamu tidak boleh begitu sama kakakmu. Sengaja ibu suruh dia datang untuk membantu beres-beres. Kita perlu tenaga.” Hanna menenangkan Daniel sambil memegang bahunya.
“Kenapa? Ngadu lagi? Dasar anak Mami!” Ujar Raymond kasar sambil sengaja menyenggol badan Daniel. Daniel menghela nafas sambil menahan amarah. Dalam hati, Daniel ingin sekali meninju mukanya.
“Dia tidak bersungguh-sungguh. Hanya bercanda.” Nidya berjalan dan memberi Daniel senyum simpatik. “Dia sebenarnya sangat perhatian padamu.” Nidya menepuk bahu kiri Daniel, lalu mengikuti suaminya masuk lebih dalam di rumah itu.
“Dia bersungguh-sungguh.” Bisik Adelia yang kini sedang berdiri di samping Daniel sambil terus menatap serta mengagumi rumah baru mereka. “Ini benar-benar monster, bukan?”
“Raymond atau rumah?” Daniel memandang Adelia, mengagumi senyumnya yang manis dan ramah.
“Keduanya?” Jawab Adelia sambil terkikik pelan.
“Ya, kamu benar.” Sahut Daniel. “Ayo, Adel, ayo kita pilih kamar kita!”
“Oke.” Kata Adelia sambil mengikuti langkah kakaknya.
Raymond dan Nidya menyiapkan kamar tidur tamu untuk diri mereka sendiri di seberang lorong dari kamar tidur utama. Pasangan itu berencana menghabiskan akhir pekan di rumah baru orangtuanya. Mereka akan tinggal di sana pada Sabtu malam ini, membantu merapikan barang-barang pada hari Minggu, kemudian pulang pada Minggu malam, kembali ke rumah sederhana mereka di seberang kota.
Rumah itu jelas merupakan produk pada zamannya. Hanya jalan masuk dan ruang tamu di lantai dua yang memiliki tata ruang terbuka. Semua kamar lain tertutup dan terkotak-kotak. Di sekeliling rumah, ada panel kayu yang kaya dengan ukiran dan tatahan yang cantik. Pembangun rumah ini rupanya sangat suka menuangkan detail yang berlebihan. Rumah besar seperti ini tentu saja akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit ketika rumah itu dibangun pada tahun 1716.
Hari sudah gelap, akhirnya keluarga itu menikmati pizza yang telah dipesan dan diantar oleh ojeg online. Semuanya makan pizza sambil berbincang-bincang tentang rumah baru mereka. Daniel yang tidak ingin berlama-lama dengan Raymond, pamit untuk mandi di seberang lorong dari kamar tidur barunya. Daniel melangkah memasuki kamar mandi yang lumayan luas itu. Ada shower dan bathtub juga di sana. Daniel pun mulai membersihkan badan yang sudah tak karuan.
Di lantai bawah, Hanna mencuci piring sambil memikirkan kemungkinan perlunya merombak ruang dapur agar lebih representatif. Bagi Hanna dapur adalah dunianya. Masakan apa saja bisa ditangani. Apalagi rendang dan sambaladonya. Tiba-tiba Hanna merasa ada hawa dingin di belakangnya. Hanna pikir Lucas sedang berjalan dan mendekatinya. Tak lama, Hanna latah spontan karena pantatnya ditepuk.
“Hei! Apa yang kamu lakukan, Lucas!” Pekik Hanna setengah kesal sambil terus mencuci piring.
“Apa?” Lucas agak berteriak dari tempat dia yang sedang membersihkan meja makan dengan bantuan Nidya.
Sontak saja, denyut nadi Hanna bertambah cepat dan dia berbalik, tetapi tidak ada seorang pun di belakangnya. Hanna berpikir tidak mungkin Lucas dengan sangat cepat kembali ke tempatnya setelah menepuk pantatnya. Hanna mematikan kran air wastafel dan meletakkan tangannya di pinggul. Ini aneh. Dia berani bersumpah seseorang memukul pantatnya. Hanna menatap lekat ke arah Lucas, sementara pikirannya seperti mengambang di udara.
“Tidak ada, sayang,” Hanna kemudian merespon. Lucas pun kembali membersihkan meja.
Dan sekarang, Hanna masih tertegun. Setengah kesadarannya seakan hilang saat memikirkan kejadian yang baru saja ia alami. Bahkan syaraf-syaraf otaknya seperti menggerakannya. Tanpa sepatah kata pun, Hanna berjalan keluar dari dapur, menyusuri lorong, dan ke atas. Pikiran muncul di benak Hanna bahwa dia harus menggunakan kamar mandi meskipun dia benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukan di sana. Hanna berjalan ke kamar mandi di seberang kamar baru Daniel. Hanna membuka pintu dan menyelinap masuk begitu saja. Hanna bisa mendengar Daniel bernyanyi dengan lembut saat dia menggosok dirinya sendiri. Jantung Hanna berdegup kencang. Hanna membiarkan pintu terbuka di belakangnya dan berjalan ke tirai kamar mandi. Entah apa yang Hanna pikirkan, dia merasa perlu membuka tirai.
“I can’t stop loving you …” Daniel masih terus bernyanyi. Tiba-tiba tirai kamar mandi terbuka dan Daniel memekik bernada tinggi. Dia berbalik untuk melihat ibunya berdiri di sana dengan pandangan jauh di matanya. “Sial, Bu, apa yang ibu lakukan?” Teriak Daniel sembari menutupi kemaluannya dengan kedua tangan.
Jeritan itu menyadarkan Hanna. Dia seperti terbangun dari mimpinya. “Oh, maafkan aku, Daniel. Aku tidak tahu ada orang di sini.” Dia menatapnya dari atas ke bawah. Tubuh remajanya yang sembada dan licin karena air. Dia tidak bisa tidak memperhatikan tubuh Daniel yang atletis. “Aku… um… Ibu kira kamar mandi ini kosong.”
“Apakah ibu tidak mendengarku bernyanyi?” Ucap Daniel sembari membalikkan badan. Lagi-lagi mata Hanna disuguhkan oleh bokong remajanya yang seksi. “Keluar, Bu!!!”
“Tentu saja, maaf. Maafkan ibu, Daniel.” Hanna mundur kembali ke lorong dan menutup pintu.
Itu semua sangat aneh. Tiba-tiba Hanna merasa sangat aneh. Wanita cantik itu berjalan kembali ke tangga dengan perasaan paling aneh yang pernah ia rasakan. Hanna seperti bergerak dalam gaun kolot. Dia seperti orang lain, bukan sebagai diriya. Hanna lalu menatap ke tubuhnya untuk memastikan bahwa dia sebenarnya masih mengenakan t-shirt dan celana jins. Hanna mencoba mengatur nafas. Berusaha mengeyahkan pikiran aneh dari kepalanya. Setelah agak tenang, Hanna pun masuk ke kamarnya lalu merebahkan diri di atas kasur. Pikiran Hanna terasa sangat lelah dan tak lama ia pun tertidur pulas. JUDI ONLINE SLOT
Bunyi gedebuk terdengar di aula dan bergema ke kamarnya. Itu juga yang membuatnya terbangun. Dan kemudian terdengar suara pukulan yang lain. Tak lama, suara itu menjadi suara ketukan berirama yang stabil. “Itu bukan suara hantaman melainkan suara tamparan,” pikir Daniel dalam hati. Mungkin kakaknya yang menjijikan mencoba mengerjainya. Daniel membuka selimut dan berjalan menuju pintu. Lantai yang halus dan dingin menempel di kakinya. Daniel memeluk dirinya sendiri melawan angin. Di kamarnya sangat dingin.
Begitu sampai di pintu, Daniel mengintip ke aula. Di sebelah kanannya semuanya sunyi di tangga yang menuju ke kamar saudara perempuannya di menara timur juga tak ada apa-apa. Di sebelah kirinya, aula itu memanjang jauh. Melewati tangga besar, sampai ke pintu kamar tidur utama yang tertutup di mana orangtuanya tidur.
“Apa?” Mata Daniel melebar.
Seorang wanita telanjang dengan rambut hitam panjang menjuntai ke bawah, payudara besar, dan perut hamil menyandarkan sikunya di pagar yang menghadap ke tangga besar. Daniel hanya bisa mendengar dengkuran lembut si wanita hamil tersebut. Di belakang si wanita sedang ‘bekerja’ seorang pria muda yang mungkin seumuran Daniel, atau mungkin sedikit lebih tua. Si pemuda mencengkeram pinggul wanita hamil itu dan mendorong kemaluannya keluar masuk organ intim si wanita dengan penis besarnya. Gerakan si pemuda begitu cepat, Daniel mengira si pemuda akan segera klimaks, tetapi sebaliknya, dia malah menabraknya lagi dan lagi. Di lantai, di sekeliling pasangan yang sedang kawin itu berserakan pakaian kuno. Tentu saja, penis Daniel mengeras di bawah piyamanya.
Wanita berambut hitam panjang itu menoleh dan menatap Daniel. Mata hitamnya berkobar ke dalam jiwanya. “Itu dia, sayang. Ooohh…” Si wanita menggertakkan giginya dengan setiap dorongan. “Ikatan dan kontrak yang harus dibuat.” Si wanita berbicara dengan lembut tetapi kata-kata itu terbawa ke lorong panjang menuju Daniel. “Kami membayar dan menerima dan Iblis mengambil haknya.” Seluruh tubuhnya bergoyang luar biasa dengan setiap dorongan keras. Daniel merasakan gairahnya terbakar hanya dengan melihat aktivitas senggama mereka. Daniel tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Tapi yang pasti pemuda itu sangat menginginkannya.
“Siapa… Siapa…?” Daniel tergagap. “Kamu siapa?”
“Saya ibu Nuning … Kamu tidak mengenal saya. Tapi kamu bisa seperti kuda pejantan yang hebat jika kamu mau.” Wanita itu tersenyum manis dengan senyum sendu. “Kamu bisa mempunyai semua yang kamu lihat sekarang.”
“Bagaimana?” Daniel memperhatikan buah pantat si wanita yang bergetar karena tumbukan dan lekuk indah punggungnya yang halus.
“Kamu hanya perlu mengatakan bahwa kamu menginginkan saya.” Ibu Nuning menggerutu saat pemuda di belakangnya mempercepat gerakannya. Tidak ada kelembutan di bawah sana. “Katakan kamu akan membayar harga untuk memiliki apa yang kamu inginkan.”
“Aku… aku…” Daniel memang menginginkannya.
“Katakan persetujuanmu, sayang. Kemudian, kamu akan menikmati kesenangan ini.” Ibu Nuning mengejang nikmat saat si pemuda mendengus dan berhenti bergerak. Jelas si pemuda klimaks di dalam tubuh Ibu Nuning. Wanita hamil itu pun mendorong tubuh si pemuda hingga penyatuan tubuh mereka terlepas. Ibu Nuning berdiri si sebelah si pemuda sambil memegang penisnya yang masih tegak dan keras. “Bayar harganya dan kamu bisa mendapatkan apa yang dimiliki pemuda yang manis ini. Selama-lamanya.” Ibu Nuning terus menatap Daniel sambil menyeringai.
“Saya mau kamu.” Daniel tidak tahu berapa harganya, tetapi dia lebih dari bersedia membayar apa pun. “Aku akan membayar harganya.”
“Anak baik.” Kata Ibu Nuning. Dan dengan itu, Ibu Nuning dan pemuda di sebelahnya menghilang, bersama dengan semua pakaian mereka.
“Halo?” Ucap Daniel pelan sembari mengedarkan pandangan.
Tiba-tiba Daniel merasakan kehangatan di penisnya yang kaku. Awalnya terasa menyenangkan, tetapi kemudian dengan cepat menjadi tak tertahankan. Itu sangat panas. Bolanya juga. Segala sesuatu di bawah sana terasa seperti terbakar. Daniel berlari melintasi aula menuju kamar mandi lalu menyalakan pancuran air dingin ke dalam bathtub. Daniel melompat dengan piyamanya yang masih terpasang dan menurunkan pantatnya. Air dingin tidak membantu mendinginkan penisnya yang demam. Penis Daniel bersinar dengan warna kemerahan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Tak lama Daniel menyaksikan dengan mulut menganga kalau penisnya tumbuh. Dengan setiap denyut nadinya, itu menambah ketebalan dan panjangnya. Urat-urat vena mendefinisikan diri mereka sendiri di sepanjang porosnya. Kepala penis membengkak dan berubah warna menjadi ungu tua. Daniel berusaha untuk tidak hiperventilasi. Setelah beberapa menit, penisnya berhenti tumbuh dan menonjol dari tubuhnya yang atletis dengan proporsi yang mengerikan. Mungkin panjangnya tidak kurang dari 20 sentimeter dan sangat tebal. Cahaya meninggalkan penisnya, lalu menyebar ke bolanya. Sekarang mereka juga tumbuh seiring dengan setiap detak jantungnya. Daniel mengulurkan tangan dan meraih penisnya dengan kedua tangan dan membelai. Dia belum pernah merasakan kesenangan seperti itu sebelumnya. Ketika bolanya berhenti mengembang, bola-bola itu cukup bengkak dan terlihat urat ungu kecil yang bersilangan.
“Ya Tuhan, aku … akan … meledak.” Daniel melepaskan semburan air mani ke tirai kamar mandi dan menyiprat ke lututnya. Itu lebih banyak air mani daripada yang biasa dia hasilkan dalam sebulan penuh. Penisnya menjadi lembut, tetapi itu masih sangat besar.
Daniel membersihkan air mani ke saluran pembuangan, berdiri, dan mematikan pancuran. Masih basah kuyup, Daniel segera keluar dari kamar mandi dan masuk ke aula. Penisnya berayun seperti pendulum di antara pahanya. Daniel berhasil menyeberangi lorong hingga sampai ke kamar tidurnya, menutup pintu di belakangnya, dan membersihkan tubuhnya lalu membaringkan badan yang telanjang di tempat tidur. Daniel melihat ‘perkakas’ miliknya. Daniel sangat ketakutan. Itu terlalu besar. Daniel benar-benar gusar tapi untungnya ia segera tertidur, dan memimpikan mimpi surgawi, menyetubuhi Ibu Nuning dari belakang.
“Daniel, ibu masuk.” Hanna membuka pintu dan melangkah masuk. Hanna menemukan Daniel berbaring di atas selimut, tengkurap. Pantat seksinya hampir membutakan Hanna di bawah sinar matahari pagi. Hanna terkikik pada dirinya sendiri, betapa seksinya bokong Daniel. Sebenarnya ada keinginan untuk menyentuh bokong Daniel. Namun Hanna menahannya.
“Daniel?” Hanna berjalan ke tempat tidur dan mengguncang bahu Daniel. Lagi-lagi Hanna memperhatikan bokong Daniel yang bulat dan kuat. “Waktunya bangun, sayang.” Ucap Hanna lagi sembari menggoyang-goyangkan bahunya.
“Apa?” Dengan grogi, Daniel menoleh dan mengedipkan mata ke arah ibunya. Dia selalu tahu kalau ibu tirinya adalah wanita cantik, tetapi pada saat itu, Hanna terlihat sangat memikat. Mata Daniel tertuju ke belahan dadanya saat dia membungkuk. Pipi Daniel memanas dan Hanna menatap sambil tersenyum manis. Daniel memandang dada Hanna nanar. Buah dadanya begitu bulat proporsional tercetak dibalik gaun ketat yang ia kenakan.
“Sudah waktunya untuk bangun.” Hanna memperhatikan Daniel yang sedang mengintip gaunnya, tetapi Hanna tidak keberatan. Entah mengapa ada perasaan senang saat Daniel memperhatikan dadanya. “Kita akan berangkat ke gereja dalam satu jam. Kamu harus bersiap-siap dan sarapan dulu sebelum berangkat ke gereja.” Hanna menegakkan tubuh dan mengedipkan mata pada Daniel. “Cepatlah mandi dan berganti pakaian. Bersiaplah segera dan sarapan.” Hanna berusaha keras untuk tidak tertawa saat meninggalkan ruangan. Dia menutup pintu setelah keluar dari kamar.
“Oh, sial!” Daniel baru menyadari setelah Hanna pergi bahwa dirinya telanjang. Dia membalikkan tubuh hingga terlentang. Kontol raksasanya jatuh ke perutnya. “Oh, besar sekali.” Dia melihat ke bawah mengagumi harta warisan leluhurnya yang perkasa. Tapi, bagaimana dia bisa memasukkan semua itu ke dalam celana?
Daniel melompat dari tempat tidur, melakukan yang terbaik untuk menyelipkan monster itu dengan nyaman ke dalam celana dalam, dan mengenakan pakaian gerejanya. Ketika Daniel tiba di lantai bawah, dia menemukan saudara-saudaranya di ruang makan menghabiskan sarapan mereka.
“Si kunyuk baru bangun.” Kata Raymond di antara suapan. Raymond mengenakan setelan yang tidak pas, yang tidak bisa menahan bahunya yang lebar. Dia memakai dasi biru dibalik jasnya.
“Selamat pagi, Daniel.” Nidya memberi Daniel senyum sedih yang mengisyaratkan bahwa dia merasa kasihan pada Daniel, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. JUDI ONLINE SLOT
“Kenapa kamu berjalan sangat lucu?” Adelia memandang Daniel dari atas ke bawah saat Daniel duduk dan mengambil sarapan untuk dirinya sendiri.
“Hanya pegal-pegal karena kemarin.” Daniel berbohong sambil membalik dasi merahnya di atas bahunya untuk menjauhkannya dari makanan.
“Apakah kamu hernia, bro?” Raymond menertawakan leluconnya sendiri dan menatap istrinya. Nidya terpecah antara mendukung suaminya atau tidak ingin mempermalukan Daniel yang malang lebih jauh. Nidya memilih yang pertama dan tertawa kecil, tetapi tidak melakukan kontak mata dengan salah satu dari mereka.
