Perkenalkan nama saya Andry, umur saya 24 tahun dengan tinggi sekitar 168cm dan berat 76kg. Kisah ini saat saya sedang liburan kerumah ortu saya disuatu kabupaten yang terletak dilereng pegunungan karena lagi libur pergantian semester diuniversitas saya.
Singkat cerita pada saat itu saya sedang duduk-duduk diteras sambil menghirup udara segar tidak seperti di bandung yang sekarang sudah mulai tercemar polusi. Kemudian setelah berselang beberapa menit, kemudian ada seorang wanita menggunakan topi bambu kerucut dan menggendong sebuat bakul yang berisi botol-botol bekas syrup. Mukanya tidak kelihatan karena ditutupi topi coklatnya tapi terlihat dari tanganya kalau dia berkulit putih. Mungkin karena saya lama memperhatikannya kemudian, dia masuk dari pagar yang terbuka dan masuk keteras. SHIO TOGEL 2023
“Jamunya tuan…”, katanya sambil menawarkan jamu dagangannya.
Kemudian dia membuka topinya dan terlihatlah seorang wanita yang kira-kira berumur 28 tahun. Mukanya cantik sekali, putih mulus dan tak satupun jerawat hinggap di wajah cantiknya.
“Jamunya ada apa aja mbok ?”.
“Ada jamu kuat, encok, pegel linu, cekot-cekot, asam urat dst". (macam-macam sampai pusing mendengarkanya)”
“Waduh maaf mbok, saya nggak sakit”.
“Ooh… kalau begitu minum jamu ini aja mas, ini buat sehari-hari supaya tetap sehat bugar”.
“Ooh… kalau begitu minum jamu ini aja mas, ini buat sehari-hari supaya tetap sehat bugar”.
“Ya udah deh mbok, yang itu aja…”.
Kemudian dia mengeluarkan sebuah gelas kaca dan mulai tangannya mengambil bermacam-macam botol dan menuangkannya ke gelas itu seperti bartender. Saya diam-diam melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambutnya yang hitam panjang dan lurus menghiasi wajahnya yang bersih itu. Terlihat badannya sangat sintal dan langsing singset dan kaki putihnya yang tidak ditumbuhi bulu-bulu. Terlihat dia sangat merawat dirinya, mungkin dirinya rajin minum jamunya itu. Tidak sengaja saya melihat gundukan payudaranya dibalik bajunya, terlihat payudaranya yang SANGAT BESAR dan kencang. Ternyata dia tidak menggunakan BH, tapi saya tetap kesulitan melihat putingnya karena bajunya ketat dan bajunya sangat tebal.
“Ini mas jamunya”, ucapnya sambil menyodorkan jamu yang sudah di buat.
“Terima kasih”, balasku singkat.
Kemudian saya minum jamunya sedikit demi sedikit sambil melihat wajahnya yang cantik itu sambil berbincang-bincang
“Waduh mbok, jamunya enak banget”.
“Terima kasih mas”.
“Andry, nama saya Andry. Kalau boleh tau nama mbok siapa ?”.
“Nama saya Ningsih”.
“Panggilanya siapa mbok Ningsih ?”.
“Terserah mas saja”.
“Kalo manggilnya mbok Ningsih boleh nggak ?”.
“Boleh mas, tapi jangan panggil saya mbok, saya kan belum nenek-nenek”, katanya sambil tertawa kecil.
“Boleh mas, tapi jangan panggil saya mbok, saya kan belum nenek-nenek”, katanya sambil tertawa kecil.
“Iya Ningsih kamu masih muda, cantik lagi”.
“Ah mas bisa aja deh”. SHIO TOGEL 2023
“Suami kamu pasti senang sama kamu”, ucapan ini tersirat untuk menanyakan statusnya karena biasanya disini orang kawin pada usia 20 tahunan
“Saya belum kawin mas”.
“Ohh begitu toh”.
“Ngomong-ngomong Ningsih sudah jualan jamu sejak kapan ?”.
“Sudah 7 tahun mas”.
“Ohh gitu toh mbak, ini mbak sudah habis”, sambil memberikan gelas yang sudah kosong.
“3000 mas”.
Kemudian saya berdiri dan mengambil dompet saya di kantong dan mengambil selembar 5000.
“Ini mbak”, sambil menyodorkan uang 5.000 kepadanya.
Pada saat dia menerima uang pembayaranku, dengan sengaja saya menyenggol tangannya. Woww halus sekali.
“Ini mas kembaliannya”.
Kembali saya menyenggol tangannya hanya sekedar ingin merasakan halusnya tangan Ningsih penjual jamu tersebut. Lalu dia mulai berjanjak pergi dan menjajakan dagangannya ke tempat lain.
Keesokan harinya, saya ingin bertemu dia lagi sehingga saya kembali menunggu di teras rumah di pagi hari. Cukup lama saya menunggunya sekitar setengah jam batang hidungnya belum juga terlihat oleh mataku. Dengan rasa bosan ketika menunggu saya kemudian masuk kedalam rumah. Sekitar 3 jam kemudian terdengar suara ketukan di pintu depan kemudian saya buka pintunya dan ternyata yang datang adalah si Ningsih.
Keesokan harinya, saya ingin bertemu dia lagi sehingga saya kembali menunggu di teras rumah di pagi hari. Cukup lama saya menunggunya sekitar setengah jam batang hidungnya belum juga terlihat oleh mataku. Dengan rasa bosan ketika menunggu saya kemudian masuk kedalam rumah. Sekitar 3 jam kemudian terdengar suara ketukan di pintu depan kemudian saya buka pintunya dan ternyata yang datang adalah si Ningsih.
“Mas Andry, jamunya lagi nggak ?”.
“Wahh… dari tadi sudah saya tunggu-tunggu kok nggak datang”.
“Iya mass tadi saya lagi nganter anak saya ke sekolahan”.
Kemudian saya binggung sejenak,
“Belum kawin kok punya anak sih ?” gumamku dalam hati.
Kemudian saya ajak ke dalam rumah.
“Ayo mbak masuk aja”.
“Terima kasih mas”.
Kemudian dia langsung masuk kerumah saya dan melepaskan sandal kumalnya di depan.
“Eh.. ehh.. Ningsih ga perlu dibuka sendalnya !”.
“Nggak papa mas nanti ngotorin lantai mas aja”.
Kemudian dia masuk kerumah dan duduk beralas ubin.
“Ehm Ningsih kok duduk disitu sih ?”.
“Kan kebiasaan saya begini mas, masa tukang jamu duduk di kursi, kan nggak sopan?”.
“Ini kan di ruang tamu jadi nggak apa-apa ayo duduk disini”, kataku sambil menepuk sofa.
Kemudian dia duduk di sofa.
“Nah gitu dong nanti kalo duduk di lantai masuk angin lo…”.
“Makasih mas, mas mau minum itu lagi?”.
“Iya Ningsih”.
Kemudian dia mulai meracik ramuan minumannya. Tapi perbincangan kami membuatnya berhenti sebentar-sebentar.
“Ningsih, biasanya yang laku itu jamu apa?”.
“Oh, biasanya jamu buat perempuan sama jamu kuat mas”.
“Jamu buat perempuan itu apa aja?”.
“Jamu pembesar dan pengencang payudara dan pantat, kulit putih dan mulus, & jamu rapet mas. Biasanya pagi-pagi saja sudah laku mas”.
Ternyata mendengar pembahasan yang seperti ini membuat penis saya sudah berdiri separo.
“Oh gitu toh, pantesan yang punya cantik sekali”.
“Ah mas bisa aja deh”, katanya tersipu malu.
“Abis itu tetek kamu juga besar, pasti sering minum jamunya ya”.
“Ah mas... ngga enak loh didengar orang”.
“Tenang mbak, santai saja di sini cuman kita berdua, tapi yang tadi beneran lo mbak”.
“Oh itu gara-gara saya harus minum tiap hari mas”.
“Kok harus ?”.
“Iya karena kalau rasanya beda berarti racikannya beda mas dan hasilnya juga beda mas”.
“Oh gitu toh, ngomong-ngomong tadi mbak ini janda ya ?”.
“Nggak mas”.
“Punya anak angkat?”.
“Nggak mas, kok pertanyaannya seperti itu sih?”.
“Aaa.. anu mbak, saya binggung katanya nganter anaknya kesekolah kan kemarin mbak bilang belum nikah”.
Entah dengan sengaja atau tidak, dia menumpahkan air jamunya ke lantai.
“Maaf mas, nggak sengaja”.
“Nggak saya yang minta maaf, saya sudah lancang bertanya seperti itu, saya mau ngambil pel dulu”.
“Nggak saya yang minta maaf, saya sudah lancang bertanya seperti itu, saya mau ngambil pel dulu”.
Kemudian saya mengambil pel lantai di sudut ruangan dan membawanya ke ruang tamu.
“Udah mas saya aja ngelap”.
Sebenarnya saya ogah-ogahan, jadi langsung saya memberi pelnya ke Ningsih.
“Ini Ningsih”.
Kemudian dia langsung menjongkok di hadapan saya dan mengelap. Ini adalah kesempatan emas melihat payudaranya. Maju mundur, maju mundur terlihat bukitnya bergoyang dengan indah. Tetap saja putingnya tidak kelihatan, hanya melihat separuh dadanya sudah cukup bagiku. Setelah itu dia kembali meracik ramuan jamunya.
“Sebenarnya begini mas, kisahnya memalukan mas. Saya pacaran dengan laki-laki di desa terus main gituan sama dia, begitu mendengarkan saya hamil dia malah melarikan diri”.
“Waduh... maaf Ningsih saya tidak tahu”.
“Udah mas nggak papa, semuanya sudah terjadi nggak bisa kembali lagi, lagipula ini juga salah saya, ini mas jamunya”.
“Iya makasih”.
Kemudian saya mengambil gelas penuh jamu itu dari tangannya.
“Saya jadi kepikiran mas”.
“Udah Ningsih, itu kan sudah masa lalu”.
Kemudian saya meneguk jamunya kembali.
“Mas, Ningsih mau tanya sama mas. Emang mas udah pernah main gituan ya?”.
“Iya sudah, emang kenapa Ningsih, kok tiba-tiba tanya begitu ?”.
“Nggak mas emang nggak takut hamil”, rupanya gadis ini gapsek (gagap seksual).
“Mas kan punya ilmu biar nggak hamil”.
“Ah mas bisa aja deh…”.
“Beneran, mas nggak bohong”.
“Trus kesakitan nggak mas?”.
“Enggak, malah mau lagi”.
“Ah mas bohong ah”.
“Iya beneran”.
“Mas keliatan bohongnya, buktinya dulu saya begituan sakit”.
“Emang sama mantan pacar kamu diapain?”.
“Dulu pacarku pernah remas-remas itu saya, sakit mas, terus dia nunjukin itunya, saya ngeri mas ada bulunya kriwil-kriwil hiii”.
Saya tertawa mendengar apa yang diceritakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar