45 tahun lalu, aku menikahi seorang wanita di desaku. Ia sangat cantik, wajah menawan, postur tubuh proporsional, rambut ikal berwarna kecokelatan. Rupanya tidak seperti anak gadis di desa pada umumnya, hampir semua lelaki berlomba-lomba untuk mendekatinya. Ada yang mendekati dirinya, ada pula yang langsung menghadap ke kedua orang tuanya. LINK LAPAK303
Aku mendapatkan dia tidak dengan kedua cara tersebut. Pernikahan itu murni sebuah kesepakatan antara kedua orang tua kami, ayahku seorang juragan sapi yang cukup terkenal di desa dan ibuku adalah pemilik toko kue. Sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengan wanita yang akan dijodohkan padaku karena sedang menempuh pendidikan di Jakarta.
Singkat cerita, aku dan dia bertemu beberapa bulan sebelum pernikahan kami. Mereka tidak memberikan opsi menerima atau menolak perjodohan itu, aku sih senang-senang saja memenangkan hati seorang gadis desa. Tetapi bukan itu masalahnya, aku tidak tahu apakah wanita ini bisa menerimaku atau mungkin ia memang sudah memiliki kekasih pilihan hatinya.
Berulang kali aku menanyakan hal itu tetapi dia tidak menjawab. Aku pikir mungkin dia memang ingin menerima perjodohan ini sebagai bukti berbakti pada orang tua. Akhirnya kami pun menikah dan dia aku ajak kembali ke Jakarta karena aku akan menempuh pendidikan S2. Aku juga bekerja sebagai arsitek di salah satu perusahaan besar, mereka menuntutku untuk terus berkembang dari segi pendidikan.
Perusahaan itu pula yang membiayai kuliah S2-ku. Di Jakarta aku sudah memiliki rumah dan mobil hasil jerih payahku sendiri, dulu waktu pertama kali pindah aku hanya menempati kamar kos-kosan yang tidak terlalu besar. Lalu aku magang di perusahaan ini dan setelah lulus mereka menarikku untuk bekerja di sana, meski sudah bekerja aku tetap tinggal di kos-kosan yang sama.
Beberapa bulan sebelum kembali ke desa aku membeli rumah dan mobil karena rasanya tidak mungkin aku membawa kembali istriku ke Jakarta kemudian menetap di sebuah kos-kosan kecil. Aku ingin dia merasa nyaman dan tercukupi saat hidup denganku di kota. Sesampainya kami di rumahku ia cukup pendiam, aku sudah takut kalau-kalau ia tidak suka dengan rumah yang kudesain sendiri.
Rumah ini tidak terlalu besar tetapi fungsional. Aku menyukai sesuatu yang minimalis dan aku tidak tahu bagaimana seleranya “suka engga sama rumahnya?” tanyaku terbata-bata. Ia kemudian melihatku “suka kok” jawabnya. Sebatas itu kami berbicara “anggap saja rumah sendiri, mau lihat-lihat dulu juga boleh kok kalo ada yang engga ngerti cara pakainya bilang saja. Aku mau mandi dulu” ucapku sambil mengusap kepalanya.
Entah apa yang ada di pikiranku tiba-tiba memiliki keberanian untuk mengusap kepalanya. Aku hanya ingin mencairkan suasana dan tidak terlalu kaku, tetapi aku cukup menyesal dengan apa yang aku lakukan. Setelah mengusap kepalanya, aku bergegas ke kamar mandi untuk menetralkan detak jantungku yang sepertinya sebentar lagi akan hilang entah ke mana.
Setelah selesai mandi, aku ke luar kamar dan menemukan dia sedang duduk di tempat tidur. Aku kira dia sedang melihat-lihat isi rumah dan memikirkan banyak hal untuk menaruh sesuatu di sana tetapi dia malah naik dan masuk ke kamar. Aku menebak kalau ia menungguku di sana selama aku mandi “loh kamu engga keliling buat liat-liat? Siapa tau kamu terpikirkan untuk menaruh sesuatu di beberapa tempat,” ucapku.
Aku berjalan mendekatinya sampai tiba-tiba berhenti di samping kaca. Aku melihat pantulan diriku yang hanya memakai selembar handuk! Dengan cepat aku pergi ke dalam kamar ganti dan segera berpakaian “tidak usah” katanya tiba-tiba. Aku terkejut dengan apa yang dia ucapkan “kita sudah suami-istri kenapa masih malu.” Mendengar kalimat itu aku menghampirinya dan mulai mengenal dirinya lebih jauh.
Setelah itu kami merasa menjadi lebih dekat dan dia memintaku untuk berkeliling rumah. Kami berdiskusi tentang apa saja yang harus dibeli untuk mengisi kekosongan di rumah itu, kemudian pergi ke mal dan supermarket membeli banyak barang. Aku menemukan sisi lain dari dirinya, kukira dia akan sulit didekati dan tidak ramah padaku ternyata malah sebaliknya.
Ia sebenarnya sangat suka berbicara dan bercerita tetapi tidak pernah ia tunjukkan karena takut itu adalah sebuah aib LINK LAPAK303 untuk keluarganya. Maklum pemikiran orang di desaku kala itu kalau anak perempuan haruslah banyak diam dan menurut saja. Ia baru bisa bebas menjadi dirinya setelah bersamaku karena sudah jauh dari orang tuanya.
Dua tahun menikah kami dikaruniai seorang anak perempuan. Ia sangat cantik dan kurasa mirip sekali dengan istriku. Semakin hari kami menemukan sesuatu yang baru dalam diri pasangan masing-masing dan berusaha menerima itu bulat-bulat agar pernikahan ini tetap terjaga. Tiga tahun setelah kelahiran anak pertama, ia kembali melahirkan sepasang bayi kembar dan ia meminta untuk tidak memiliki anak lagi.
Aku menuruti permintaannya. Setelah memiliki anak, ia baru meminta untuk dipekerjakan asisten rumah tangga karena kesulitan mengurus anak dan rumah sekaligus. Ketika lahir anak kedua dan ketiga kami, ia tidak meminta tambahan asisten rumah tangga “kita harus menabung banyak uang untuk sekolah mereka nanti” katanya. Aku merasa memiliki istri yang sangat pengertian.
Selama pernikahan, aku merasa sudah menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk keluargaku. Aku memperlakukannya dengan baik dan menuruti beberapa hal yang mereka mau itupun kalau aku merasa barang yang dibeli akan berguna untuk mereka. Tidak pernah sekalipun aku marah hingga mengeluarkan kata-kata kasar, apalagi memakai kekerasan.
Aku sangat menyayangi keluargaku, terutama istriku. Bergantinya tahun, bertambah pula usia kami termasuk anak-anak. 27 tahun usia perkawinan kami menerima kado terburuk yang pernah diterima, putri pertama kami hamil di luar nikah dengan kekasihnya. Baru kali itu aku marah hingga rasanya tidak bisa membendung rasa kecewaku. Aku merasa gagal menjadi seorang ayah, aku berpikir di mana celah mereka bisa melakukan hubungan terlarang seperti itu.
Aku mulai mengevaluasi diri sebagai ayah di mana letak kesalahanku agar itu tidak terjadi pada putri keduaku. Aku merasa sangat kecewa bukan hanya pada putriku tetapi pada diriku sendiri. Aku sudah berusaha menjaga mereka semampuku, meski rasanya ingin membenci anakku sendiri tetapi pada kenyataannya tidak bisa. Wajah mungil saat berada di dalam gendonganku pertama kali seolah kembali dimainkan dalam otakku seperti sebuah film.
Biar bagaimana pun, putriku menjadi orang yang pertama kali membuat diriku merasa gagah hingga menyandang status “ayah.” Saat itu aku melihat istriku sudah menangis sejadi-jadinya dan ditenangkan oleh putri keduaku. Sedangkan ketika aku pergi menghampiri kekasihnya, anak lelakiku ikut bersamaku sambil membawa kakaknya.
Aku menghampiri kekasihnya dan menamparnya, ia habis aku maki-maki saat itu. Berulang kali aku sudah memintanya untuk menjaga anakku karena aku percaya padanya, tetapi ini bentuk ‘menjaga’ yang ia berikan padaku. Aku memaki lelaki itu di depan kedua orang tuanya, ternyata ia tidak memiliki nyali untuk bilang kepada mereka. Orang tuanya baru mengetahui kabar itu dariku, mereka langsung menangis dan meminta maaf padaku.
Apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur. Kami sebagai orang tua menikahkan mereka dan memberi tempat tinggal. Mereka tinggal di rumahku karena aku sudah tidak percaya lagi pada lelaki itu dan membiarkan anakku hidup bersamanya. Aku takut anakku akan ditelantarkan dan disakiti karena memaksanya untuk menikah.
Dua tahun pernikahan anakku, aku terkena stroke. Aku hanya bisa terbaring di kasur dan sulit berbicara, dokter mengatakan kalau aku terlalu stres. Memang, banyak hal yang aku tidak suka dari suami anakku itu tetapi aku tidak bisa berbuat banyak. Lelaki itu mungkin adalah kebahagiaan untuk anakku, meski buatku dia bukanlah laki-laki bertanggung jawab.
Hari-hariku dilayani oleh istri yang selalu sabar mendampingiku. Ia dengan sabar mengurusku dengan telaten. Tiga tahun aku hanya bisa terbaring lemas tiba-tiba aku mendengar rintihan di dekat kasurku. Meski aku tidak bisa berbicara bukan berarti aku tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di dekat kasurku. Aku melihat istriku tengah berhubungan seksual dengan menantunya sendiri.
Aku terkejut, marah, dan ingin ‘menghabisinya’ sekali lagi. Aku tidak menyangka kalau istri yang kukenal sabar dan kuat ternyata malah ada ‘main’ di belakangku. LINK LAPAK303 Aku selalu meminum obat yang memiliki efek samping mengantuk luar biasa, namun hari itu ia belum memberikannya padaku. Sepanjang sore aku sudah tertidur menahan sakit di punggungku.
Cukup lama aku menyaksikan mereka 'bermain' seperti itu. Hingga aku akhirnya memalingkan wajah dan berusaha untuk memikirkan hal lain. Keesokkan harinya, istriku tersenyum dan melayani kebutuhanku seperti biasa, ingin rasanya aku mengatakan apa yang kulihat semalam tetapi aku tidak bisa berbicara. Selama ia menyuapiku, aku melihat wajahnya dan bertanya-tanya sudah berapa lama mereka menjalin hubungan.
"Kamu kenapa menatap aku kaya gitu? Mau ke kamar mandi?" Tanyanya, aku hanya menggelengkan kepala. Ternyata selama aku di bawah pengaruh obat tidur, mereka 'bermain' di kamarku karena merasa aku tidak akan mengetahui hal itu. Malam berikutnya, aku memutuskan untuk tidak menelan obat yang mengandung obat tidur, aku ingin mengetahui cara mereka berselingkuh.
Ketika aku pura-pura tertidur, menantuku yang datang dan mengetuk pintu kamar kami. Istriku dengan senang hati menyambutnya dan mereka melakukan hal itu, sekali lagi aku harus menyaksikan istriku dipuaskan oleh menantunya sendiri. Bukan hanya aku yang sakit hati tetapi bagaimana perasaan anakku saat semua ini terbongkar?
Aku sangat paham kalau istriku sudah tiga tahun memendam hasratnya dan aku akan menceraikan dia jika ia ingin melakukannya dengan lelaki lain. Tetapi aku tidak menyangka kalau lelaki itu yang menjadi pilihannya, selama mereka bermain aku bungkam. Setelah itu, aku mendengar kalau mereka membicarakan aku dan anakku, awalnya istriku membanggakan aku tetapi ia kecewa karena kini aku terbaring lemah dan tidak bisa memuaskan hasratnya.
Menantuku pun demikian, ia tidak puas karena anakku hanya mengurus anak mereka dan tidak lagi ingin disentuh. Setelah pembicaraan itu, mereka 'bermain' sekali lagi dan menyudahkannya karena hari sudah hampir pagi. Aku melirik istriku sudah tertidur pulas sambil tersenyum puas.
Aku harus menahan rasa sakit hatiku selama berbulan-bulan karena menyaksikan mereka melakukan itu di sampingku. Mereka akan kembali bersikap seperti biasa kepada pasangannya seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Berawal sakit hati, kini aku sudah terbiasa dengan suara rintihan istriku, aku hanya berharap suatu saat nanti anakku yang akan memergoki mereka melakukan itu.
Rupanya doaku terkabul. Malam itu, ketika mereka sedang melakukan hubungan seksual tiba-tiba anak sulungku mengetuk pintu "Ma, aku nitip Nayra ya. Aku mau cari Mas karena dia tidak ada di kamar" katanya. Ternyata selama ini anakku selalu mengetahui kalau suaminya tidak ada di kamar hampir setiap malam atau mungkin ia memiliki firasat adanya perselingkuhan di antara ibu dan suaminya.
Saat itu, mereka berdua terdengar sangat panik dan berusaha untuk tidak bersuara. Aku mencoba berteriak meski suaraku tertahan dengan sigap anakku langsung membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Kali ini pintu kamarku tidak terkunci atau memang mereka begitu yakin kalau tidak ada seorang pun yang akan masuk dan mengetahui perselingkuhan mereka.
Ketika pintu terbuka, putriku mengamuk dan berteriak karena terkejut menemukan ibu dan suaminya sedang tidak berbusana. Teriakannya itu membangunkan semua orang di rumah, sambil mengamuk ia menutup mata anaknya agar tidak melihat hal yang tidak seharusnya. Mereka berdua langsung menarik apa saja untuk menutup alat vitalnya.
Kedua anakku yang lain menghampiri ke dalam kamarku dan menyaksikan perselingkuhan itu, salah satu anakku memukul laki-laki itu dan menyeretnya ke luar tanpa satu helai kain. Ia berteriak memanggil asisten rumah tangga kami untuk memanggil ketua rt.
Malam itu rumah kami heboh sekali. Tidak ada satu pun anakku yang mau menenangkan ibunya, aku melihat istriku terduduk di pinggir tempat tidur, menangis dan meminta maaf atas perbuatannya. Ia diabaikan oleh anak-anakku, putri sulungku menghampiri aku dan menangis di pelukanku. Ia meminta maaf karena sudah membawa laki-laki itu masuk ke dalam rumah kami.
Istriku segera berpakaian ketika banyak warga yang datang ke rumah karena teriakan anak-anakku. Mereka berdua di sidang dan disaksikan oleh beberapa warga juga anak-anakku. Di tengah persidangan mereka, anak laki-lakiku datang ke kamar dan menggendongku untuk duduk di atas kursi roda. Kemudian membawaku ke ruang tengah, di mana semua orang sedang menghakimi istriku.
Melihatku, istriku menangis dan berlutut di depanku. Aku memalingkan wajah menatap anak laki-lakiku seolah meminta untuk menyingkirkan ibunya dari hadapanku. Anak laki-lakiku menggeser ibuku dan menaruh kursi rodaku di dekatnya.
Tak lama kemudian, orang tua dari menantuku datang setelah dihubungi oleh putri keduaku. Mereka terlihat sangat malu untuk kedua kalinya. Istri dan menantuku dibawa ke kantor polisi dan akan dilaporkan oleh anak sulungku, kedua orang tua laki-laki itu memohon agar anaknya tidak dibawa. Tetapi anak sulungku tetap bersikukuh membawa suami dan ibunya ke kantor polisi.
Setelah kejadian itu, ketiga anakku yang bergantian merawatku. Sebenarnya, selama aku terbaring tidak pernah sekalipun mereka merasa kekurangan. Sudah banyak projek di luar perusahaan yang aku selesaikan dan sedang dalam masa pembangunan sehingga rekeningku tidak pernah kosong.
Semua pekerjaan yang masih harus dikerjakan diambil alih oleh anak laki-lakiku karena ternyata ia memiliki keahlian yang sama denganku. Sampai suatu hari satu per satu dari mereka menikah, termasuk anak sulungku tetapi ia memutuskan untuk tetap tinggal di rumah dan merawatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar