Sebagai kepala bagian umum, tugas Susilo pagi itu memang sangat sibuk. Jam tujuh lewat sepuluh menit, dia sampai di kantor. Anak buahnya yang terdiri dari petugas kebersihan dan pesuruh kantor, sudah menunggu kedatangannya, untuk menerima perintahnya – pekerjaan apa yang harus mereka lakukan. Tanpa membuang waktu lagi, Susilo langsung saja membagi tugas. Sebagian mempersiapkan ruang pertemuan yang akan digunakan sebagai ruang serah terima jabatan pimpinan dari pimpinan yang lama ke pimpinan yang baru – yang akan di teruskan dengan perkenalan. Sebagian lagi, di tugaskan untuk mempersiapkan konsumsi. JUDI LAPAK PUSATSementara Susilo dan para bawahannya sibuk berbenah, para karyawan yang lain tampak saling membicarakan calon pimpinan mereka yang baru, yang akan menggantikan Pak Hengki.
“Katanya sih seorang cewek.” Celetuk salah seorang karyawan.
“Galak tidak, ya?” tanya yang lain.
“Semoga saja tidak seperti Pak Hengki.” Harap seorang karyawan.
Jam delapan lewat lima belas menit, empat buah mobil mewah berhenti di pela-taran parkir kantor. Segera para bawahan Susilo yang di tugasi menyambut dan membukakan pintu mobil melaksanakan tugas mereka. Dari keempat mobil itu, turun empat orang para pemimpin perusahaan. Salah seorang dari mereke, adalah seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun, berwajah cantik, hidung bangir, bodi sintal.
Semua karyawan pun bertanya-tanya, siapa perempuan setengah baya yang masih tampak cantik dan anggun itu? Sebab mereka semua belum tahu, siapa perempuan itu. Meski ada pula yang menduga-duga, apa mungkin perempuan cantik itu yang bernama Bu Siti Nara? Calon pimpinan mereka? Kalau ketiga lelaki yang mengiring perempuan cantik itu, adalah Pak Hengki, pimpinan yang akan diganti. Sedang dua lelaki yang berjalan di belakang mereka, adalah Pak Suryo dan Pak Handoko, direktur operasional dan direktur personalia.
Keempat orang itu masuk. Di lobbi, beberapa karyawan dan staf menyambut dengan anggukan kepala dan senyum ramah. Lalu mereka menaiki tangga, menuju ke lantai dua kantor itu. Di sana, mereka kembali di sambut oleh seluruh staf dan karyawan dengan ramah dan hormat. Setelah itu, baru kemudian keempat pimpinan perusahaan itu langsung menuju ke ruang pertemuan. Di mana akan diadakan acara serah terima jabatan dan juga perkenalan. JUDI LAPAK PUSAT
Semua karyawan dan staf semakin yakin, bahwa perempuan cantik jelita dan anggun mempesona itu, tentulah Siti Nara, calon pimpinan mereka yang baru. Yang akan menggantikan Pak Hengki.
“Saudara-saudara sekalian, hari ini akan diadakan acara serah terima jabatan pimpinan utama perusahaanini, dari Pak Hengki yang akan pindah tugas ke Surabaya, kepada Ibu Siti Nara. Setelah itu, akan dilanjutkan dengan acara pelepasan dan perkenalan . . .” protokol memberitahukan. Setelah itu, acara serah terima jabatan yang di saksikan oleh beberapa orang manager dan kepala bagianpun dilaksanakan.
Pak Hengki selaku mantan pimpinan diberi waktu untuk menyampaikan sambutan sebagai ungkapan perasaannya sebelum pergi meninggalkan kantor dan para karyawannya.
“Sebenarnya saya merasa berat sekali meninggalkan teman-teman yang selama ini telah banyak memberikan bantuan serta menjali kerja sama dengan saya. Namun di karenakan adanya tugas baru yang harus saya laksanakan, maka dengan berat hati terpaksa saya harus menerima perpisahan ini . . .” Pak Hengki sejenak menghentikan ucapannya. Menarik napas dalam-dalam. Lalu setelah memandang sesaat ke arah perempuan cantik yang berdiri di sampingnya, Pak Hengki meneruskan : “ . . . saya akan pergi meninggalkan kalian semua yang saya cintai. Namun sebelumnya, terlebih dulu saya meminta maaf pada kalian semua, apabila selama saya menjadi pimpinan di perusahaan cabang ini pernah – bahkan mungkin sering membuat kelalaian maupun kesalahan, kiranya kalian berkenan memafkan. Dan kepada Ibu Siti Nara, saya ucapkan selamat datang dan selamat bekerja. Kiranya, Bu Nara bisa meningkatkan kwalitas dan kwantitas di perusahaan ini.”
Selesai Pak Hengki menyampaikan sambutan, kemudian diteruskan sambutan yang disampaikan oleh Ibu Siti Nara.
“. . . terimakasih saya ucapkan pada semuanya, yang telah memberikan sambutan pada saya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Hengki, saya akan berusaha untuk bisa meningkatkan kwalitas dan kwantitas hasil kerja di perusahaan ini. Dan kepada Pak Hengki, saya pribadi maupun seluruh staf dan karyawan di perusahaan ini mengucapkan selamat jalan dan selamat menjalankan tugas baru. . .”
Selesai acara serah terrng disampaikan oleh Ibu Siti Nara.
“. . . terimakasih saya ucapkan pada semuanya, yang telah memberikan sambutan pada saya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Hengki, saya akan berusaha untuk bisa meningkatkan kwalitas dan kwantitas hasil kerja di perusahaan ini. Dan kepada Pak Hengki, saya pribadi maupun seluruh staf dan karyawan di perusahaan ini mengucapkan selamat jalan dan selamat menjalankan tugas baru. . .”
Selesai acara serah terima dan sambutan, dengan diiringi oleh para direksi dan manager serta kepala bagian, Pak Hengki meninggalkan ruangan itu. Menuju ke lantai lima paling atas, menyalami seluruh staf dan karyawan dan mengucapkan selamat tinggal. Sedangkan Ibu Siti Nara yang mendampingi Pak Hengki, menyalami mereka sambil memperkenalkan diri dan memberitahu bahwa dia akan menggantikan Pak Hengki di kantor itu.
Dari lantai lima, mereka turun ke lantai di bawahnya, dan seterusnya sampai di lantai dasar dan mengantar Pak Hengki sampai masuk ke dalam mobilnya. Berdiri di teras kantor. Mereka baru masuk kembali, setelah Pak Hengki dengan mobilnya melaju meninggalkan pelataran parkir kantor.
Ibu Nara kemudian diantar menuju ke ruang kerjanya yang berada di lantai tiga.
“Kami berharap kiranya di bawah kepemimpinan ibu, kwalitas dan kwantitas hasi di teras kantor. Mereka baru masuk kembali, setelah Pak Hengki dengan mobilnya melaju meninggalkan pelataran parkir kantor.
Ibu Nara kemudian diantar menuju ke ruang kerjanya yang berada di lantai tiga.
“Kami berharap kiranya di bawah kepemimpinan ibu, kwalitas dan kwantitas hasil kerja kami meningkat,” kata Pak Suryo.
“Benar, Bu. Semoga ibu berkenan membimbing dan menegur kami jika ibu mendapatkan kekurangan atau kesalahan yang kami perbuat dalam menjalankan tugas,” timpal Pak Handoko.
“Begitu halnya dengan saya. Kiranya jika saya ada kelalaian atau kekurangan, Pak Suryo dan Pak Handoko, berkenan memberi teguran dan saran,” balas Bu Nara sambil tersenyum, yang semakin menambah cantik dan anggun wajahnya.
“Selamat bekerja, Bu,” kata Pak Suryo dan Pak Handoko hampir bersamaan. JUDI LAPAK PUSAT
“Terimakasih.”
Pak Suryo dan Pak Handoko pun pergi meninggalkan ruang kerja Bu Nara.
Sepeninggal kedua orang direktur itu, Siti Nara tidak langsung memegang dan mengerjakan tugas-tugasnya. Sesaat dia menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi kerjanya yang empuk. Ditengadahkan wajahnya, memandang ke langit-langit ruang kerjanya. Dihelanya napas panjang dan berat. Hatinya bertanya, apakah dengan kedudukannya yang baru dan tinggi sebagai direktur utama, dia telah mendapatkan kebahagiaan sebagaimana yang dia harapkan?
Sepi. Lagi-lagi kesepian yang dia rasakan. Tidak di rumah, tidak di kantor, maupun dimana saja dia berada. Hatinya yang kecewa, membuatnya jadi merasa kesal dan dendam. Dan kekesalan serta dendam yang ada di hatinya itulah, yang membuat hidupnya jadi terasa sepi. Dan itu semua dikarenakan lelaki. Sebab, lelaki-lah yang telah membuatnya jadi begitu. Kesepian. Memendam rasa kecewa, dendam dan benci. Sehingga sampai dia berusia tiga puluh lima tahun, dia belum menikah. Dia masih sendiri, dan tetap akan sendiri. Entah sampai kapan. Sebab hatinya sudah membeku untuk bisa menerima cinta dari seorang lelaki. Hatinya terlanjur sakit. Sakit yang di sebabkan oleh perbuatan lelaki.
Kurang apa aku ini? Tanyanya dalam hati pada diri sendiri. Wajah dan tubuhku tak jelek. Tetapi, kenapa dia tega menyakitiku? Kenapa dia tega meninggalkanku dan lari ke perempuan lain, setelah puas merenggut kegadisanku?
Ingatnya, seketika kembali melayang pada kejadian beberapa tahun yang silam. Pada mantan kekasihnya yang tega mengkhianati dan menyakiti dirinya. Ya, lelaki yang dicintai dengan sepenuh hati, ternyata tega mengkhianati dan menyakiti perasaannya. Tega meninggalkannya begitu saja dan menikah dengan perempuan lain, setelah dia menyerahkan kehormatannya. Menyerahkan segala-galanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar