Sebuah gubuk bambu berdiri di tengah area ladang jagung yang baru saja dibuka, aktivitas warga pun meningkat pesat disana, mereka beramai-ramai membabat hutan yang sudah mulai gundul, memang seperti itulah rantai kehidupan warga di daerah itu.
Polisi hutan yang nakal dan warga sama saja, hutan gundul pun juga karna pembalakan luar biasa dari warga sekitar, bahkan jika ada warga yang tertangkap jarang sekali mereka di proses secara hukum, yang ada hanya hukum damai ditempat. LAPAK303 ASIA
Tawar menawar harga layaknya membeli sebungkus kacang rebus saja.
Tentu saja hal seperti itu banyak untungnya buat warga, mereka tidak akan mengeluarkan banyak biaya untuk membangun rumahnya dan banyaknya hutan gundul untuk lahan pertanian pasca program penanaman pohon.
Sambil menunggu pohon yang ditanam oleh pihak Perhutani tumbuh besar warga dapat memanfaatkan lahan sebagai ladang jagung dan tak perlu membayar, Warga hanya di haruskan merawat tanaman yang di tanam oleh pihak Perhutani saja.
Memang sejatinya program seperti itu mampu menahan laju urbanisasi ke Kota-kota, banyak pemuda yang ikut menggarap ladang jagung, ada yang sekedar membantu ada juga yang nekat membuka lahan sendiri.
Seperti halnya Seno pemuda yang baru berumur belasan tahun itu sudah berani membuka lahan sendiri padahal lahan garapan ayahnya lebih dari cukup sayangnya mereka hidup hanya berdua. Sang ibu pergi meninggalkan Seno ketika ia masih duduk di bangku SD.
Hasil dari didikan sang ayah membuat Seno memiliki semangat yang kuat tanpa sosok seorang Ibu.
Seperti pemuda pada umumnya Seno memiliki seorang kekasih hati Arum namanya, Seno berhasil meluluhkan hati gadis manis itu.
Walaupun si gadis masih duduk di bangku sekolah dan Seno memutuskan untuk lebih memilih membantu sang ayah namun semua itu tak membuat Seno minder untuk mendekatinya.
Sudah seminggu ini dari pagi hingga siang hari Seno sibuk membuka lahan garapan baru. Sedangkan sorenya ia dan teman-temannya pergi ke hutan sekedar berburu sarang burung atau berburu hewan apa saja yang bisa mereka dapatkan.
Malamnya barulah Seno berkunjung ke rumah Arum hanya duduk berdua di teras rumahnya itu pun harus menunggu Arum selesai belajar.
Tapi kali ini Seno agak kecewa, pasalnya sang kekasih tak ada di rumah maka Seno memberanikan diri bertanya kepada ayahnya Arum, paklik Sarjito namanya.
“ Kulonuwun…”
“Monggo… Eh kamu Sen? Masuk sini, piye babatanmu (ladangmu) sudah beres belum Sen?”
“He he he sedikit lagi lik, tinggal di bakar aja udah selesai kok. ”
“ Oalah… Cepat yo Sen? “
“Njih paklik, lah kok sepi to paklik, pada kemana ini he he he…”
“Oya kamu kesini nyari Arum to? Anaknya tadi pamit mau belajar sama temanya kalau ibunya sore tadi ke rumah adiknya. Jadi ya paklik sendirian di rumah, kamu mau ngopi ndak Sen biar tak bikinin sekalian temenin paklik mumpung ndak ada orang ”
“Lah malah jadi merepotkan ini he he.. “
“Wes kalem saja tunggu bentar yo? “
Seno hanya mengangguk pasrah, bukannya ketemu sang kekasih malah di bikinin kopi sama bapaknya, sudah pasti ngomongin pekerjaan.
Heeeuh….
Tanpa sadar Seno menghela napasnya.
Tak lama secangkir kopi telah siap, paklik Sarjito pun mengambil bungkusan plastik dari laci meja di depan Seno apalagi kalau bukan rokok racikan sendiri alias lintingan. Dengan lincahnya paklik Sarjito meracik rokok itu lalu disodorkan ke Seno.
“ Di coba dulu Sen, tembakau enak ini, “
Ucap paklik Sarjito kepada Seno, namun Seno menolak pemberian paklik Sarjito.
“Waduh buat paklik aja, saya sudah bawa kok paklik, he he he “
“Alah iya, anak muda moso melinting ya Sen? tapi Manteb lo ini? kamu ndak pengen mencoba to Sen? “
“Ndak paklik, he he he “
“Yo wes…“
Setengah jam sudah berlalu dan Seno pun akhirnya pamit pulang kepada paklik Sarjito.
“ Njih mpun lik, (ya sudah lik) saya pamit dulu matur suwun kopinya he he…“
“Lho lho… Ngga ngobrol dulu to… “
“ He he… Anu, lain kali sambung lagi aja njih paklik? ini mau berburu sama anak-anak juga soalnya, Monggo paklik…“
Ucap Seno sembari menggaruk kepalanya yang ngga gatal.
“Yo wis nanti tak sampaikan ke Arum ya Sen, Hati-hati di hutan yo banyak demit lo Sen?“
“Siap paklik! He he… “
Seno pun pergi meninggalkan rumah sang kekasih, sedangkan ayahnya Arum menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat kepergian pemuda itu.
Tak disangka dalam perjalanan pulang Seno bertemu dengan Arum, senyum keduanya mengembang.
“Mas dari mana? “
Ucap Arum dan satu tangannya meraih buku tangan Seno lalu menciumnya.
“Habis menemin bapakmu lo dek he he he…”
Balas Seno cengar cengir.
“Lah bilang aja mau ngapelin pacar tapi gagal? “
“Iya iya… Habis mau gimana lagi dek mas kangen kok he he… “
“La ini udah ketemu, ayo anterin pulang sekalian orang punya pacar kok dibiarkan sendirian he he…“
“Iyees… Tapi nanti nongkrong dulu ya? he he…“
“Iyaah… Ayo ah! “
Seno pun menggandeng tangan Arum, nikmat mana lagi yang kan di dustakan. Mereka bahagia hanya dengan berjalan bergandengan tangan saja, pos ronda tempat yang menjadi langganan Seno dan Arum bermesraan tak begitu jauh dari rumah Arum.
Untuk menuju lokasinya tak sampai lima menit dari tempat mereka bertemu.
Kini keduanya sudah duduk berdua di pos ronda. Lokasi yang sepi dan tak ada penerangan disana membuat keduanya bebas bercerita ditambah dengan terpaan indahnya sinar rembulan membuat suasana semakin romantis saja.
Arum pun tak segan menyandarkan kepalanya di bahu Seno, Aroma semerbak wangi rambut yang tergerai membuat Seno salah tingkah. Perlahan Seno memberanikan diri meraih pinggang Arum dan mengecup kening sang gadis, tak sepatah kata pun terucap.
Hanya ada senyum terkulum dari si gadis, tapi ketenangan itu terganggu oleh sorot lampu dari arah hutan sana. Kondisi hutan yang membukit membuat siapa saja bisa melihat kalau ada cahaya di malam hari, tepatnya di pos ronda yang di duduki oleh Seno dan Arum saat ini.
“ Mas, di hutan kayak ada orang ya mas? “
“Hu um dek, mungkin berburu ya dek? “
“Ih ngga takut apa di hutan malam-malam gini“
“ Ngga lah dek? ngga ada apa-apa juga kok disana “
“Tetap aja mas kalau takut yo takut aja? “
“ Kamu mau uji nyali ngga? Ayo tak temenin kalau mau he he he”
“Emoh… Pulang yuk mas, dah malam nih…“
“Ya udah ayo, besok kamu kesiangan lagi bangunnya”
“Hu um”
Arum segera beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh Seno, sampai di depan rumah suasana sudah sepi Seno pun pamit pulang, dia tak ingin kekasihnya bangun kesiangan nantinya.
“Aku langsung pulang ya dek? “
Ucap Seno sembari melangkahkan kakinya
“Hu um hati-hati ya mas? “
Seno tersenyum kearah gadisnya dan segera meninggalkan sang gadis. Pikiran Seno terganggu oleh adanya cahaya di atas bukit tadi tidak mungkin orang berburu binatang di hutan kayu putih karna lokasinya terlalu dekat dengan perkampungan tabiat pengintip Seno pun langsung bekerja dengan cepat.
“Heem…. Ada sesuatu ini mue he he he… “
Ucap Seno sendiri, tak perlu berjalan mengendap agar tak ketahuan yang ada Seno malah berjalan cepat menyusuri jalan setapak ke atas bukit sana. Setelah sampai atas bukit Seno baru berjalan perlahan menuju arah cahaya yang tak lagi menyala, hanya mengandalkan Feeling saja untuk mencarinya.
Rupanya Seno bernasib baik dan tak perlu berlama-lama mencari apa yang menjadi tujuannya, indra pendengaran Seno mulai mendengar sesuatu.
Yap!
Saatnya mengendap, ucap Seno perlahan dan dengan perlahan Seno mendekati arah suara itu. Untung penglihatannya terbantu oleh sinar rembulan tentu sangat menguntungkan buatnya walaupun Resiko nya bakal mudah ketahuan juga. Asal suara itu semakin dekat dan alangkah kagetnya Seno melihat pemandangan itu.
Dua tubuh tanpa busana sedang asik mengayuh birahinya di tengah hutan, wanita itu bagaikan kuda betina yang merangkak di tanah sedangkan si lelaki dengan cepat menyodoknya dari belakang. Sesekali kepala wanita itu menengadah ke atas di barengi dengan lenguhan kenikmatannya.
Seno segera mencari tempat yang aman agar tak ketahuan oleh mereka. Jelas dua insan yang sedang birahi itu tak menyadari ada sepasang mata yang mengintip kegiatannya, lenguhan pun menjadi-jadi. Masih dengan gaya yang sama hanya sesekali si lelaki merubah pijakan kakinya yang ke depan. Tusukannya juga berbeda dan setiap berganti posisi wanitanya selalu melenguh nikmat, saat sodokan lelakinya melambat dengan segera wanita itu menggoyang pinggulnya yang gempal.
“Uugh… Enak mbakyu… ”
Ucap lelaki itu kedua tangannya meraih pinggul wanita yang di panggil mbakyu itu,
“Aaah…. Ayo dik… sodok lagi… ”
Balas wanita itu dan goyangan pinggulnya semakin tak karuan, tapi tetap saja lelakinya tak bergerak, tangannya malah menarik maju mundur pinggul si wanita.
“Sebentar aku capek mbakyu… ”
Ucapnya, tak ada jawaban yang ada goyangannya berubah menjadi kejat naik turun seolah ingin menjepit dan menarik batang kejantanan pasangannya tentu efeknya luar bias., seketika lelaki itu melepas pegangan tangannya di pinggul si wanita dan berganti satu tangan memegang pundak dan satu lagi meraih payudara si wanita.
Aach… Lenguh si wanita.
Lenguhannya seolah mengiba kepada pasangannya, wajahnya yang sayu karna birahi itu menoleh ke belakang dan langsung disambut dengan lumatan bibir oleh lelakinya. Tak ayal membuat si wanita semakin terbuai oleh nafsunya sendiri. Bongkahan pantat yang terus maju mundur lalu naik turun dan sesekali mengerutkan pantatnya membuat si lelaki pelan-pelan menggerakkan pinggulnya.
KLop sudah diatas lidah saling membelit sedangkan alat kelaminnya sudah mulai saling membalas setiap kocokkan. Yang wanita memundurkan bokong sedangkan lelakinya membalas dengan menyodok dengan keras. Tak ayal membuat si wanita melepaskan ciumannya dan meracau ke enakkan.
“Aaaach… Mentok deekh…. Aaaach… Teruuus… Deekh… Aku mau sampai… Aaach… Gelii…. Aaach….”
Akhirnya si wanita mencapai titik kepuasan yang di tandai dengan membeliakkan mata dan membanjirnya lubang kenikmatan. Tak lama setelah itu di susul erangan dari si lelaki yang menumpahkan cairannya di dalam lubang kenikmatan si wanita.
Plop…
Saat batang kejantanannya keluar air maninya pun ikut menetes.
Iiih…Keluh kegelian si wanita saat merasa batang yang menyumpal nonoknya keluar.
Hos hoos hooosh… Keluar berapa kali mbakyu?
Tanya si lelaki dengan nafas yang masih memburu.
“Tiga kali dik? Aku puas banget, makasih ya dik? Jawab wanita itu.
“Iya mbakyu? nanti kalau ada waktu mbakyu kabari aja ya? Aku siap kapan pun kalau mbakyu mau lagi kok, ”
“Huuuh…. Maunya… Iya iya? jangan ada yang tau lo ya? Dah yuk pulang, tadi aku pamit ke rumah adikku soalnya, takut suamiku nyusul kesana malah repot nanti dik…“
“Ayok. Sini tak bantu pakai dasternya…“
Mereka berdua tersenyum dan sesekali tangan jahil lelaki itu mencolek kemaluan si wanita. Membuat si wanita memberikan cubitan kecil di lengan si lelaki.
“ Mbakyu ini niat banget pengen tak kawini ya? Sampai celana dalam aja ngga di pakai dari rumah he he” Goda si lelaki.
“Kalau ndak niat ya kita ngga dapet enak-enak sekarang to dik? Hi hi hi”
“Iya ya? Ya udah yuk pulang “
Selayaknya orang kasmaran pasangan itu pun berjalan bergandengan tangan, mereka tak sadar kalau perbuatan mereka disaksikan oleh seorang pemuda, sedangkan Seno sendiri blingsatan menahan konaknya.
Alangkah kagetnya Seno saat mendengar penuturan si wanita, barulah dia sadar siapa yang sedang di intip olehnya. Dengan seksama Seno memperhatikan si wanita dan tak salah lagi itu Bulik Sumi istri paklik Sarjito Ibu kekasihnya sendiri.
Seno hanya geleng kepala melihat kenyataan itu, Seno melangkah gontai antara konak dan sesal telah mengintip perbuatan mesum Ibu dari kekasihnya sendiri.
Hari berlalu minggu berganti bahkan hampir dua tahun Seno menjalani harinya di ladang jagung, naas bagi petani, wabah tikus yang jumlahnya ribuan mulai menyerang. Para petani termasuk Seno harus berjaga di ladang jagung masing-masing khususnya malam hari.
Perkampungan menjadi sepi karna para lelaki beramai-ramai menjaga tanamannya. Namun apa boleh buat Tikus yang niatnya mau di berangus agar tak merusak tanaman jagung ternyata jumlahnya tak terkira. Bak air mengalir ribuan tikus entah dari mana datangnya tiba-tiba menyerang pohon jagung yang buahnya mulai siap panen.
Alhasil semua warga yang berjaga di ladang lari tunggang langgang, tak seorang pun yang berani mengusik arogansi ribuan tikus itu. Jelas kalau nekat nyawa yang menjadi taruhannya, warga pun pasrah dengan keadaan dan pulang ke rumah masing-masing dengan lesu.
Pupuk dan bibit dari upaya hutang ke toko yang rencana di bayar setelah masa panen pun tak jelas lagi juntrungannya, belum lagi jerih payah merawat tanaman terasa sia-sia sudah.
Sebulan berlalu dan masa tanam pun tiba, warga kembali bercocok tanam, berharap ribuan tikus sudah pergi dari lahan garapan mereka. Cukuplah sekali para warga mengalami kerugian tapi apa mau dikata, dua tiga hari setelah tanam ribuan tikus kembali menyerang pada malam hari mereka memakan benih jagung yang di tanam.
Jika keadaan terus berlanjut di jamin banyak petani jagung yang mengalami kerugian bahkan bangkrut pun bisa jadi.
Seno petani muda yang masih pemula memutuskan untuk hijrah ke ibukota, maka Seno segera membicarakan keinginannya itu kepada sang ayah. Kebetulan juga pakliknya ada yang bekerja disana dan menurut sang ayah tak sulit bagi Seno untuk mendapatkan pekerjaan.
Paginya Seno berangkat ke warung telefon untuk menghubungi pakliknya, dengan cepat di utarakan keinginannya, dan si paklik berpesan agar tiga hari lagi menghubunginya kembali,
Tiga hari berlalu dan kabar baik untuk Seno, dia di minta datang ke ibukota oleh pakliknya Senin depan Seno sudah harus masuk kerja di sana. Mendengar hal itu Seno segera pulang dan menyiapkan segala sesuatu untuk bekalnya nanti. Dan malamnya tak lupa menemui sang kekasih untuk berpamitan, karena rencananya besok siang Seno akan langsung berangkat saja tak perlu menunggu hari Sabtu untuk kesana.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tak terasa sudah tiga bulan aku di ibukota meninggalkan orang tua meninggalkan kekasihku dan meninggalkan kebiasaanku menonton live show mesum di area hutan kayu putih itu. Belakangan ku tahu ternyata di sana sudah biasa menjadi tempat langganan mesum dan hal itu aku manfaatkan bersama teman-temanku sebagai ajang mengintip para pelaku. Bahkan beberapa kali ku saksikan adegan hot Bulik Sumi dengan pemuda selingkuhannya, aah… Selamat tinggal semuanya.
Di kota ini aku menjalani hariku sendiri dan ternyata tempat kerjaku berbeda dengan paklikku. Ya sudah semua itu tak jadi masalah bagiku yang jelas suasana di sini begitu bersahabat denganku. Banyak sudah yang kukenal dari tukang bubur ayam langgananku sampai anak-anak proyek pun menjadi temanku. Oya aku sendiri bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang Ritel bukan perusahaan bonafide sih, tapi cukuplah untuk menopang kehidupanku.
Tak banyak aktivitas yang kulakukan siangnya kerja dan malam nongkrong itu saja kegiatanku, hingga suatu malam aku makan di warung tenda di dekat kantor sebuah instansi pemerintah daerah barat.
Tentu tidak jauh dari tempat tinggalku, di warung itu ada seorang gadis yang mengingatkan sosok kekasihku Arum, bukannya aku senang hatiku malah meremang.
Seketika aku merindukannya sehingga membuatku hilang nafsu terhadap makanan pesananku, Alhasil gadis itu menggerutu karena masakannya Cuma ku bolak-balik dan hanya sedikit saja yang baru kumakan.
“Hiiis… Niat makan ngga sih ni orang. “
Gerutukannya tentu saja terdengar olehku lalu ku tengok sekeliling. Tak ada siapa pun kecuali aku saja yang makan di warung tenda ini, heeem…
Ngomongin siapa lagi kalau bukan aku, ku tengok piring di hadapanku dan aku tersenyum kecut melihat kelakuanku sendiri, kuberanikan diri menatap gadis jutek itu dan Kusapa dia.
“Hai mbak… Aku masih disini kok? tenang aja masakanmu enak, ndak usah khawatir pasti tak makan he he he… “
“ Yeee… Sak karepmu lah! “ Jawab gadis itu.
Hem…
Aku menggeleng dan tersenyum melihat tingkahnya. Coba ngga jutek kayak gitu aku pasti sering-sering kesini sengaja aku berlama-lama di warung. Itu karna merasa kasihan melihat si cewek judes sendirian jaga warungnya.
Tak lama datang seorang wanita setengah baya menurut Feeling aku beliau ibunya si jutek yang dari tadi langsung ke belakang, si ibu pun menyapaku dan menawari aku mau minum apa.
Blaik….. Dari tadi aku disini ngga di kasih minum sama si jutek itu, lalu aku memesan es teh tawar kepada si Ibu. Sedangkan di belakang sana sayup-sayup ku dengar si ibu sedang menegur si jutek, dari situ pula aku tau si jutek itu di panggil San.
Entahlah San apa, dari kejadian itu aku lumayan sering datang ke warung untuk makan malam, lambat laun si jutek pun akrab denganku.
Santi Fatmawati nama gadis jutek itu sekarang ia tak lagi membantu sang Ibu di warung makan karena dia sendiri sudah bekerja di pabrik yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Masih di sekitar daerah barat juga, cukup dua kali naik angkot itu pun jarak tempuh angkot ngga jauh, hanya rutenya saja yang ngga searah.
Dia yang dulu jutek sekarang menjadi tempat berkeluh kesah begitu juga sebaliknya.
Banyak yang mengira aku jadian dengannya mungkin karena seringnya ngobrol berdua di depan teras kontrakan hingga larut malam membuat orang yang melihatnya seperti pacaran saja, Heuuh…
Kalau kata pepatah Jawa Tresno jalaran soko kulino mungkin itu yang kurasakan. Tapi aku sadar posisiku apa lagi aku masih memiliki kekasih pantang bagiku menghianati pasangan. Lagi pula belum tentu juga dia mau ku pacari yang penting saat ini aku nyaman bersamanya begitu juga dia.
Malam minggu tiba dan ku habiskan waktu bersamanya masih di tempat biasa. Bedanya semua teman-temanku sekarang ikut berkumpul di sini, hingga jam 11 malam kami banyak bercerita tentang pasangan masing-masing tentang pekerjaan dan hal-hal lainnya.
Setelah semua pulang dan hanya tersisa aku dan Santi saja, obrolan pun berlanjut tanpa senda gurau seperti pada saat semuanya sedang berkumpul tadi.
Oya Santi ngga pernah memanggilku Seno, aku di panggil Om sama dia, aneh sih? Tapi ya sudah lah ya? Saat ini saat berdua seperti ini dia menatapku lekat dan itu benar-benar membuatku grogi, memang obrolan kami berdua agak menjurus masalah hati sih.
“Hoy… Biasa aja sih! ngga usah gemetaran kayak gitu he he…“
“Laaah… Siapa yang gemetaran sih? “
“la itu? Jangan bilang kamu mau nembak aku, awas ya?“
“ Jiah… galaknya nongol, ndak lah… Mau aku kemanain si Arum cuy… Lagian kaya kamu mau aja sih? he he he”
“Tu kan kamu ngarep aku mau… Bilang aja sih om? “
“Iya iya? Kamu nungguin aku tembak dan langsung kamu tolak to? Seneng bener lihat temen sedih kamu tuh!“
“ Yeee… Emang iya? he he… Kita tuh nyaman kayak gini tau Om? “Mendengar jawaban dariku tangan mungilnya langsung meninju lenganku.
“iya….. Lagian aku ngga mau lah punya cewek judes, ngeri aku he he he”
“Heem…. Kampret… Sebulan pacaran langsung kurus kamu ya? ha ha ha “
Yap mulai malam ini aku dan Santi berkomitmen untuk tetap bersahabat saja.
“Au dah… Dah ah aku balik dulu ya? ibu sudah pulang tuh berarti sudah malam nih, eh menjelang pagi deng he he he “
Kulihat layar ponsel 3315 ku dan memang sudah jam 1 dini hari (pikir sendiri tahun berapa adanya ponsel jadul itu he he)
Hari terus berlalu hingga tibalah hari yang sukses membuat aku gelisah tak karuan. Tiba-tiba Arum menghubungiku dan hanya kata maaf yang kudengarkan dari gagang telefon itu, entah apa yang terjadi disana.
Satu minggu aku ngga konsentrasi kerja begitu juga saat kumpul bareng teman-temanku aku menjadi pendiam. Tentu hal itu membuat Santi bertanya-tanya dan disaat berdua dengannya aku baru menjelaskan apa yang aku rasakan, Santi menyarankan agar aku pulang terlebih dahulu, yah aku turuti saran darinya.
Minggu siang aku berangkat naik bus malam menuju kampung halamanku dan ini untuk yang pertama kalinya aku pulang. Tak terasa malam begitu cepat berlalu karna aku tidur pulas di dalam bus.
Pagi hari aku sudah menikmati secangkir kopi di rumahku sedangkan ayahku sendiri sudah tak ada di rumah saat aku datang tadi, aah… Sudah pasti beliau sibuk di ladang sana. Jam sepuluh ayahku pulang membawa segulung daun jati,.
Heem ada yang hajatan ternyata, pas bener aku pulang, setelah menaruh bawaannya dan kucium buku tangan ayahku barulah aku bertanya. LAPAK303 ASIA
“ Siapa yang ewuh (hajatan) to pak? “
Tradisi di kampungku setiap ada salah satu warga yang menggelar pesta hajatan semua warga mendapatkan tugas masing-masing dari ketua RT.
Ada yang mencari kayu ada yang mengambil air dan daun untuk membungkus makanan pokoknya semua kebutuhan hajatan di cukupi dengan cara gotong royong dan semua itu di atur oleh ketua RT nya.
“ Itu kang Sarjito besok hajatan, kebenaran kamu pas pulang jadi nanti malam kamu kalau ngga capek bisa menemin lek lekkan (begadang) di sana “
“ Loh, acara opo to pak? opo Bulik Sumi punya anak lagi to? “
“ ndak kok le? anak gadisnya kang Sarjito besok mau nikahan, cah ayu ya cepat dapet jodohnya yo le? “
Duar!……
Kakiku terasa lemas mendengar apa yang ayahku ucapkan, memang beliau tak mengetahui perihal hubunganku dengan Arum makanya dengan santainya ayakku menyampaikan kabar itu.
Ayahku bingung melihat perubahan sikapku yang langsung diam, entahlah mungkin juga mukaku pucat.
“loh…. Kamu kenapa to le? Kamu sakit?… “
“ eh, ndak kok pak ndak apa-apa, Seno masih capek pak he he… “
“oalah tak kira sakit, yo wis istirahat dulu aja yo? bapak mau nganterin daun dulu, “
“Njih pak…“
Setelah ayahku pergi aku segera masuk ke kamar aku baru sadar kalau kata maaf dari Arum seminggu yang lalu itu sebagai tanda berakhirnya hubunganku dan dia. Hancur pasti, patah hati apa lagi, ah… Nasib….. Nasib…
Hubungan yang sudah lama kubina berakhir sepihak, hanya dengan kata maaf tanpa ada alasan jelas kami putus heuuuh…
Mulai saat ini aku bersumpah ngga akan mencari pasangan hidup di kampungku sendiri aku ngga bisa melihat Arum dengan orang lain aku ngga siap dengan semua itu. LAPAK303 ASIA
Tangisan perpisahan dia waktu itu yang berhasil meneguhkan kesetiaan hatiku ternyata kandas sampai disini saja, rasanya hari ini juga aku ingin kembali ke ibukota, tapi bagaimana dengan ayahku?
Ah… jalanku masih panjang aku kuat aku sanggup melewati semua ini.
Sebuah guncangan kecil di kakiku membangunkan tidurku, ternyata hari sudah malam sang ayah menyuruhku untuk segera membersihkan diri dan segera berkumpul dengan teman-temanku di rumah paklik Sarjito.
Malas terasa tapi malam ini aku harus datang kesana.
Jam sembilan malam aku menyusuri jalan berbatu di kampungku para pemuda yang lain juga sudah mulai ke lokasi hajatan. Aku memilih menyambangi temanku terlebih dahulu, teman yang biasa mengintip pelaku perbuatan mesum di hutan kayu putih sana.
Heeem….
Mungkin dengan bertukar cerita dengannya bisa sedikit mengurangi beban pikiranku.
Dua jam aku berada di rumah teman, banyak sudah yang di ceritakan olehnya termasuk perbuatan mesum Bulik Sumi yang sampai sekarang masih berlanjut.
Memang aku tak cerita juga perihal hubunganku dengan Arum, makanya dengan bebas tanpa rasa sungkan dia bercerita tentang ibunya Arum kepadaku.
Setelah puas berbagi cerita temanku mengajakku pergi ke rumah Paklik Sarjito pas jam 11 malam kami sampai disana. Ternyata persiapan untuk pesta sudah siap tinggal sedikit saja hiasan yang belum terpasang disana.
Mataku sibuk mencari calon mempelai wanita, jujur aku ngga rela tapi inilah kenyataan yang harus kutelan saat ini.
Ku dekati kerumunan pemuda dan ku salami satu persatu, aku ikut bergabung dengan mereka.
Banyak hal yang mereka bicarakan tapi tak Satu pun yang membuatku tertarik untuk ikut membahasnya. Pikiranku melayang entah kemana sampai-sampai calon mempelai pria yang tepat duduk di depanku pun tak ku sadari.
Eh emang aku ngga tau ding, kan aku ngga kenal juga, aku tau juga dari salah satu teman yang meledek dia.
hadeeh….
Mending pulang deh Lama-lama kupingku panas juga mendengarnya.
Aku pun beranjak dari duduk dan melambaikan tangan ke teman-temanku, hanya calon mempelai pria saja yang ku salami.
Baru saja aku meninggalkan kerumunan dan keluar lewat pintu samping rumah sebuah tangan menahan langkahku.
“Mas?.. “
Degh!…
Suara itu….
Hatiku seketika meremang aku yakin aku ngga sanggup jika terlalu lama di sini dan aku yakin siapa pemilik suara itu. Isak tangis pelan terdengar di telingaku. Erat jari jemarinya menggenggam lenganku.
Aku tak ingin merusak hari bahagianya tanpa menatap wajahnya yang ku yakin sembab oleh air mata aku memutuskan untuk segera pergi saja.
“Sudah ya? aku ngga apa-apa kok? ngga baik kamu di luar kek gini. “
“Mas?… Maaf… “
“ Ngga apa-apa… Oya besok aku ngga bisa datang ya? “
Bohong kalau aku kuat aku sakit sangat sakit, kutepis tangannya dan aku pergi begitu saja tanpa melihat lagi ke arahnya.
tak lagi isakan tangis yang ku dengar tapi sebuah tangisan yang ku yakin semua orang yang ada di sana mendengarnya, masa bodo aku tak peduli dengan semua itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Perjalanan semalaman membawa seorang pemuda kembali di tengah hiruk pikuknya ibukota, dengan rasa kecewa yang di bawa ia bersiap menantang apa pun yang ada.
Bukan demi sebuah kemakmuran diri maupun keluarga, langkahnya hanya untuk menghibur Lara dan berusaha melepas belenggu hatinya walaupun dia tahu itu sangat teramat sulit.
Yah pemuda itu bernama Seno, Seno Prayoga nama lengkapnya bukan yang pertama kali ia datang ke ibu kota tapi itu satu-satunya kota yang ia datangi.
Cuiiiit….
Decit suara rem terdengar semua penumpang berebut untuk turun dari dalam bus antar kota antar provinsi, uuugh… Rutuk pemuda yang tak serepih kemarin sore kumal dan kusut karna semalaman duduk dan tertidur di dalam bus.
Rasa malas masih menguasai apalagi suasana hati yang tak menentu membuat Seno enggan sekali turun dan harus berebut jalan.
“Ah… mending mengalah toh sama saja turun-turun juga,”
Gumam Seno.
Setelah turun pun ia tak langsung mencari angkutan yang seharusnya dia tumpangi menuju tempat tinggalnya di ibukota. Seno malah asik bersandar di pagar terminal dan menyulut sebatang rokok di bibir, itulah yang ia lakukan.
Suara riuh di sekelilingnya juga tak di hiraukan hingga ada sebuah tangan yang tak kalah kumal dengan dirinya menepuk pundak si pemuda dengan wajah garang orang itu menawarkan jasanya.
“ Oey mas! Mau kemana… Ada tiket bus murah nih! tuh busnya udah siap!“
Merasa tak berdosa orang itu hendak menarik tangan Seno yang sedang asik menikmati sebatang rokoknya. Seno tak menjawab juga tak menuruti ajakan orang asing di sebelahnya tatapan kesal jelas terlihat dari orang itu.
“Hoy!!! Punya mulut ngga loe… “
Gertak si orang asing itu tapi tetap tak ada jawaban hanya lirikan sepasang mata lalu menepis tangan kumal di pundakny. Lalu ia berjalan menjauh dari orang itu tapi orang itu tak menyerah, ia hampiri lagi dan hendak menarik paksa Seno. Perlakuannya membuat Seno mulai risih ia pun berbalik menepis tarikan orang itu lalu menjawab ocehan orang yang menariknya.
“Berisik sampean bos! Saya ini mau pulang ke daerah barat, masa iya pakai beli tiket segala sih! “
Sungguh jawabannya membuat orang yang menarik dirinya menjadi dongkol seketika.
“Kampret!!!… Dari tadi ngomong kalau ngga pulang kampung!! orang ngga perlu capek nguber uber loe… Dasar Kunyuk!! “
Marah.
Orang itu terlihat murka dengan tingkah Seno, berbeda dengan Seno. Ia masih asik merokok lalu clingak celinguk entah apa yang dia cari yang jelas dia merencanakan sesuatu.
Hadeeh!… dia yang budek dia juga yang marah.
Gumam Seno, jelas ucapannya terdengar ditelinga orang di depannya tak ayal orang itu melayangkan tangannya yang hendak menampar Seno namun tindakan itu langsung di tangkis olehnya.
“ Saya sudah bilang mau kemana Situ budek ya bos!!… “
Ucap Seno ketus, lalu Seno berjalan menjauh dari lokasi terminal, tak disangka orang itu mengikuti langkahnya.
Sadar kalau di ikuti langkahnya Seno pun mempercepat langkah kakinya, tak kalah cepat atau mungkin emosinya sudah di ubun-ubun orang itu mengejar dan langsung menghadang Seno.
“Hoy!!! Songong banget lu… Serahin dompet lu atau gua bikin lo menyesal !!! “
Hardik orang yang mengejar Seno, namun pemuda itu dengan santai melepas jarinya yang menjepit rokok di bibirnya.
Kini rokok itu terselip di bibir tanpa di jepit jari jemari si pemuda, asapnya mengepul tapi tak dihiraukan masih sempat pula bibirnya tersenyum padahal ada sebatang rokok disana. Matanya tajam menatap orang yang emosinya sedang memuncak, tak ayal orang itu semakin marah dan semakin merangsek pula.
Wuuus!…
Pukulan pertama berhasil di hindari oleh Seno.
Wuuus….
Tap!! Pukulan kedua pun di tangkis, namun pukulan itu tak di balas oleh Seno, ia malah mundur dan mundur semakin menjauh dari keramaian terminal.
Mundur tapi tak lari membuat orang yang berurusan dengannya penasaran setengah mati, lawan Seno kembali merangsek mencoba memukul dan memukul, percuma saja Seno hanya menghindar dan terus mundur semakin jauh dari keramaian.
Naas, kali ini Seno jatuh terjengkang ke belakang. Bukan karna pukulan lawan tapi keberadaan seonggok batu di sela tembok pagar dan trotoar yang atasnya berjejer pot besar dan rimbun oleh tanaman membuat Seno terjatuh.
Terlihat seringai garang dan merasa mendapatkan mangsanya orang yang menyerang Seno tak menyia-nyiakan kesempatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar