Selasa, 23 Januari 2024

NGENTOT KUPERKOSA BOS CATERING

 




                                                   Pemilik usaha ini adalah seorang wanita yang kira-kira berusia 29 tahun dan belum menikah, namanya Sonia. Kriterianya tinggi badan 168 cm, ukuran buah dada 32A cukup mengiurkan untuk setiap laki-laki normal yang meliriknya. Struktur tubuh yang sangat mengairahkan dengan perpaduan bongkahan pantatnya yang sangat menantang, mungkin karena Bu Sonia rajin ikut senam aerobik yang membuat lekuk tubuhnya sungguh bagus dipandang mata. JUDI LAPAK PUSAT

Kepadatan buah dadanya yang membusung dan bongkahan pantatnya yang bulat sempurna terkadang membius laki-laki yang menatap caranya berjalan. Rambutnya yang lurus turun sebahu dengan rambut halus yang menjalar di lehernya yang jenjang, bibir sensualnya yang selalu dibalut lipstik pink membuat imajinasi setiap laki-laki ingin merasakan penis mereka dihisap oleh bibir manis milik Bu Sonia.

Saya berkerja sama Bu Sonia sebagai orang yang menyediakan laporan keuangan tentang perkembangan usahanya ini. Hampir setiap hari saya selalu pulang terakhir dan Bu Sonia selalu menunggu saya hingga ia dapat hasil dari usahanya perhari. Kekesalan saya terhadap Bu Sonia adalah karena dia orangnya terlalu kikir terhadap karyawannya, tidak memperdulikan kesejahteraan hidup karyawannya, dan masih banyak hal yang ia lakukan terhadap karyawan-karyawan yang lain.

Memang sudah lama saya menunggu satu kesempatan yang selama ini telah saya rencanain, tapi selalu saja gagal karena setiap ingin saya jalankan rencana ini selalu saja ada gangguan dari kakaknya yang telah berkeluarga. Hingga suatu hari tepatnya hari Senin malam setelah sekitar jam 12 malam, waktu itu saya dan Bu Sonia sedang berada di ruangan kerja saya dan sedang menyelesaikan tugas saya.

Sampai akhirnya terlintas pikiran jahat saya ingin berbuat sesuatu terhadap Bu Sonia atas segala kelakuannya dan atas kesombongannya yang beranggapan bahwa segalanya dapat dibeli dengan sejumlah uang yang ia miliki. Malam ini Bu Sonia memakai baju kemeja putih yang terbuat dari bahan yang lumayan tipis hingga terlihat dengan jelas dua katup penyangga susunya yang berukuran 32A, sedangkan bawahannya Bu Sonia mengenakan celana putih ketat.

Pokoknya penampilan Bu Sonia sungguh mengiurkan dengan tonjolan susunya yang menyembul menantang serta bongkahan pantatnya yang padat memperlihatkan setiap lekukan-lekukan yang terlihat setiap Bu Sonia berjalan. Kesempurnahan tubuhnya ia dapatkan karena Bu Sonia adalah salah satu membership di salah satu pusat kebugaran yang berada kawasan Kuningan, Jakarta.

                                                   ”Lex… tumben kenapa sih kamu lama banget sih selesaiin pembukuan harian kamu ini… Gak becus banget sih kerjanya… huu…” omel Bu Sonia dengan nada yang tinggi tepat di hadapan meja kerjaku. ”Sabar dong Bu… saya juga mau buru-buru selesai… tapi inikan masalah keuangan tidak bisa cepat-cepat mengerjakannya…” jawabku sambil menatap matanya dan berkata dalam hati bahwa nanti sebentar lagi dia gak bakal bisa berlagak sombong dihadapanku, malah mungkin dia yang akan menjadi budak nafsuku dan menuruti segala apa yang aku perintahkan.  JUDI LAPAK PUSAT

”Kamu kok memandang saya dengan tatapan seperti itu Lex, seperti orang yang hendak memperkosa saya saja…” kata Bu Sonia dengan nada yang masih meninggi dengan memperlihatkan kekuasaaannya sebagai seorang owner. ”Trus memangnya kenapa Bu Sonia… kalaupun saya memperkosa anda sekarang!!! Saya rasa tak akan ada satu orangpun mengetahui bahwa Bu Sonia dan saya masih berada disini” jawabku dengan nada yang meninggi pula sambil menghampiri Bu Sonia yang mulai melangkah mundur karena merasa dirinya mulai terancam atas perkataan yang aku lontarkan.

”Alex… kamu jangan coba macam-macam yah sama saya. Saya akan berteriak, kalau kamu coba-coba berbuat sesuatu sama saya” kata Bu Sonia sambil melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak tembok yang tepat dibelakangnya. ”Silakan, kalau Bu Sonia hendak berteriak, apa Bu Sonia lupa sekarang kita berada dimana, mungkinkah orang-orang akan mendengar suara teriakan Bu Sonia” kataku sambil berjalan mendekatinya. ”Semua yang Bu Sonia lakukan hanyalah membuang-buang tenaga Bu Sonia saja, lebih baik nikmati apa yang akan Bu Sonia terima dari saya, hahahahaha….” sambungku sambil tertawa merasa suspectku ketakutan.

                                          Saat itu aku bersama Bu Sonia berada di lantai 3 ruko tempat usahanya. Bagaimana kerasnya teriakan Bu Sonia tetap saja orang yang berada di luar takkan dapat mendengarnya, karena selain aku dan Bu Sonia ada di lantai 3, juga ruko ini di bangun dengan fasilitas kedap suara. Aku bisa liat dari mata Bu Sonia yang semakin lama semakin ketakutan.

Ketakutan yang semakin menjalar di dalam sekujur tubuhnya, tatapan mata yang seakan memohon sebuah pengampunan, langkah kaki yang mulai tertatih karena ketakutan yang dirasakan oleh wanita cantik itu. ”Lex… tolong kamu pikir-pikir kembali segala tindakan yang akan kamu perbuat. Saya tidak akan melaporkan ke polisi bila kamu mau melepaskan saya, dan saya akan memberikan uang berapapun yang kamu minta” kata Bu Sonia yang masih saja tetap menyombong, karena ia mengira segalanya dapat ia beli dengan uang yang ia miliki.

”Hahahahaha… apakah Bu Sonia pikir saya akan mempercayai segala apa yang ibu katakan, setelah apa yang saya liat tentang kelakuan ibu terhadap orang-orang kecil yang rendahkann” jawabku sambil mengeluarkan sebilah belati yang udah aku siapkan sedari tadi. Aku berjalan menghampiri Bu Sonia dan kemudian menempelkan belati tersebut pada lehernya dan mengancam akan berbuat hal yang nekad terhadapnya.

”Ibu Sonia sebaiknya menuruti apa yang saya minta… bila Bu Sonia tidak berkerjasama atau tidak menuruti apa keinginan saya, maka jangan salahkan saya bila saya berbuat nekad bahkan melebihi apa yang terlintas di benak Bu Sonia…”ancamku agar Bu Sonia menuruti segala keinginanku. ”Memangnya kamu mau apa… dan apa yang kamu inginkan dari saya…” tanya Bu Sonia dengan nada yang tinggi seakan-akan dia merasa bahwa dia masih bisa mengendalikan aku.

”Hai… kamu jangan merasa sok berkuasa sekarang di depanku…” bentakku yang gak mau kalah suara dengan Bu Sonia, karena aku tahu sekarang dia sedang ketakutan setelah aku melontarkan ancaman demi ancaman. ”Sekarang… kamu mau tidak menuruti kemauanku” tanyaku sekali lagi dengan nada yang membesar dari yang sebelumnya.

”Ookkee… saya ikutin apapun yang kamu perintahin Lex, asalkan saya di bebaskan…” akhirnya Bu Sonia memelankan nada suaranya, setelah merasa tindakan yang ia ambil akan mengakibatkan hal yang lebih fatal terhadap dirinya. ”Sekarang… kalau Bu Sonia sudah menyadari atas posisi Bu Sonia… baguslah dan saya juga tidak akan bertindak secara kasar terhadap ibu… asalkan Bu Sonia pun mau menjadi budak nafsu saya malam ini” sahutku sambil menghampiri posisi Bu Sonia yang berdiri mematung dihadapanku dan mengelilinginya.

”Apaaa… kamu bilang… jangan bermimpi saya mau tidur dengan kamu… apalagi menjadi budak nafsu kamu malam ini…” katanya dengan nada yang tinggi lagi. ”Heeyyy…. gak usah kamu sok galak lagi dihadapanku, simpan tenaga kamu baik-baik, kalau kamu tidak mau aku jamin kamu tidak bakal bisa lihat matahari terbit besok, mau kamu… sekarang aku tanya sekali lagi dan aku gak bakal tanya untuk kedua kalinya” bentakku tepat dihadapan muka Bu Sonia, sehingga bisa kulihat sekujur tubuhnya gemetaran karena seumur hidup belum pernah dirinya di maki-maki sama orang lain.  JUDI LAPAK PUSAT

                                       Namun Bu Sonia tidak menjawab pertanyaan yang aku lontarkan kepadanya melainkan hanya mengangguk pelan yang menandakan bahwa ia menyetujui segala yang aku ingini. ”Sekarang kamu buka baju kamu satu persatu hingga sisain BH dan celana dalam kamu saja” kataku mulai memberi perintah. ”Buka sekarang” bentakku saat dia hanya diam mematung saja dihadapanku.

Satu demi satu perlahan-lahan Bu Sonia mulai melepaskan baju dan celana yang dia pakai. Dengan liang air mata Bu Sonia masih mengharap belas kasih dariku, tapi semua itu sudah percuma sekarang di otakku cuman ingin ngentotin memek Bu Sonia yang membuatku penasaran walaupun masih terbungkus rapat dibalik celana dalam berendanya yang berwarna putih.

Gumpalan memeknya begitu mengoda hingga terasa kontolku sudah mengeras dan melejit dari celah pinggir celana dalamku. Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, kubuka celana panjang dan kemeja kerjaku dan hanya tinggal celana dalam yang belum aku buka. ”Sekarang kamu merangkak kesini…” perintahku pada atasanku yang cantik itu.

”Saya mohon Lex… ampuni segala kesalahan yang pernah saya lakuin… saya mohon…. saya akan berikan berapapun uang yang kamu inginkan… asal kamu mau lepasin saya…” iba Bu Sonia di hadapanku sambil menangis memohon. Tanpa menjawab segala pertanyaannya, aku melayangkan tangan sebelah tangan kananku dan mendarat di pipi kirinya dan.. ”Plaak…” Pipi yang putih mulus tanpa cacat itu memerah dalam sekejap.

                                     ”Sekali lagi kamu… membanggakan soal kekayaan yang kamu miliki maka aku gak segan-segan menamparmu atau bahkan memukulmu, cepat lakukan apa yang tadi aku minta dan jangan sampai pipi sebelah kananmu juga merasakan tamparan tanganku, cepat….” ancamku dengan nada tinggi. Perlahan-lahan Bu Sonia mulai berjalan merangkak dihadapanku, dan menatap ke arahku untuk menunggu sebuah perintah selanjutnya. Layaknya seekor anjing yang menunggu perintah dari majikannya.

”Buka celana dalamku, pakai mulutmu jangan pakai tangan tahu” perintahku setelah muka Bu Sonia tepat berada di depan celana dalamku. Tangan kiriku kini mendarat di pipi kanannya saat dia membuka celana dalamku memakai tangannya. ”Plaak…” ”Gobloook… kamu tuli yah, aku bilang buka pakai mulut kamu, bukannya pakai tangan kamu… tolol…” maki-makiku terhadapnya sambil kulepaskan pengait BH berenda berwarna putih yang dikenakannya dan kemudian kulepaskan dari tubuh wanita yang sangat putih mulus itu. Kupakai BH itu untuk mengikat kedua tangannya ke belakang layaknya seorang tahanan perang.

Akhirnya Bu Sonia tidak berani lagi membantah segala yang aku perintahkan dan melakukan segala yang aku suruhkan kepadanya. Dengan bibirnya yang mungil dan tipis ia berusaha menurunkan celana dalamku. Ketika celana dalam itu ditariknya dengan mulutnya ke bawah, tepat di depan mukanya kontolku yang sudah keras itu keluar dengan paksa dan menampar tepat di keningnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terungkap Fakta Baru di Balik Pembunuhan Kacab Bank BUMN

  Jadi intinya... Rekonstruksi pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN MIP digelar dengan 17 tersangka. Rekonstruksi mengungkap penculikan MIP di...