Kamis, 18 Januari 2024

NGENTOT SEORANG DUDA DAN BERSAMA CALON ANAK TIRI

 




                                            Selamat malam teman-teman pecinta cerita dewasa hot dimanapun kamu berada. Jika kamu ingin membaca cerita dewasa hot dengan kualitas yang bagus, maka saya punya satu cerita lagi yang patut disimak. Berikut cerita dewasa hot tersebut!  LAPAK303 SLOT

Namaku Tyo, umurku 38th. Aku seorang duda dengan 1 orang anak laki2 yg berumur 15th. Memang waktu itu aku menikah di usia yang cukup muda. Sudah 3 tahun aku menduda. Istriku meninggal karena pendarahan waktu mengandung anak ke-2 kami.

Selama menduda aku sudah berapa kali mencoba hubungan dengan gadis maupun janda tetapi belum ada yang berhasil. Sampai akhirnya 1 tahun yang lalu aku bertemu dengan seseorang yang kurasa cukup spesial.

Sejak sekitar 6 bulan yang lalu aku menjalin hubungan dengannya, seorang janda, sebut saja namanya Desi, umur 31th. Dia sudah punya seorang anak perempuan yang sudah berumur 15 tahun juga, sama dengan anakku, sudah kelas 3 menjelang lulus SMP. Nama anaknya Nisa. Sekelas dengan anakku. Badannya lumayan tinggi untuk anak seumurannya. Anaknya putih semampai. Periang dan suka morotin aku; minta es krim lah, jepitan rambut lah, bros jilbab lah dsb. Aku suka aja diporotin anak kecil. Paling juga tidak seberapa. Ya itung-itung buat mengambil hatinya. Nisa kalau ke sekolah berjilbab, meski di rumah dia tidak memakainya.
Aku sudah sering main ke rumah Desi. Belum pernah menginap, selalu pulang sebelum malam, jadi masyarakat sekitar juga tidak menaruh curiga. Selain itu setiap kali aku berkunjung, pintu depan rumah tidak pernah ditutup, selalu dibiarkan sedikit terbuka; Meskipun sudah beberapa kali aku ngamar dengan Desi ketika anak kami sedang sekolah.

Lingkungannya memang cenderung cuek, karena rumah Desi memang berada di kompleks perumahan elit. Mantan suaminya adalah seorang duda kaya yang menikahi Desi pada waktu Desi berumur 16 tahun. Itu pun karena Desi hamil duluan. Suaminya sudah berumur 40 tahun ketika menikahi Desi. Pak Didik namanya. Duda tanpa anak karena anak satu-satunya meninggal dalam kecelakaan mobil balap ketika melakukan balapan liar di jalan raya. Istri pertamanya meninggal ketika melahirkan anak satu-satunya tersebut. Setelah itu dia sudah menikah 2x tetapi semua dicerai karena tidak bisa memberikan keturunan. Mungkin karena itulah dia menghamili Desi dulu sebelum menikahinya.

                                     Dan Pak Didik sendiri sudah meninggal 5 tahun lalu karena kanker paru. Dia memang perokok berat. Usaha Pak Didik akhirnya diteruskan oleh Desi. Usaha percetakan yang cukup besar dan sukses. Dari situlah aku sekitar 1 tahun lalu mengenal Desi dengan lebih dekat ketika aku order cetakan yang lumayan banyak untuk kampanye saudara sepupuku dalam Pilkada setempat yang akhirnya dimenangkannya. Sebelumnya aku hanya sering ketemu waktu jemput anak kami masing-masing ketika pulang sekolah.

Pagi itu, aku ingat hari Sabtu, sekitar jam 9 aku sudah bersiap bertandang ke rumah Desi karena memang sebelumnya sudah janjian untuk ketemu. Untuk apa lagi selain untuk bercinta. Kami memang melakukannya sekitar 1x seminggu di sela kesibukan masing-masing. Kami mulai melakukannya di bulan ke-3 hubungan kami. Ya gimana lagi, sama-sama butuh. Seringnya kami melakukannya di rumah Desi meskipun kadang kami menyewa kamar hotel.

Aku sudah hampir memasuki gerbang perumahannya ketika sebuah panggilan telepon datang. Dari Desi ternyata..

“Mas, halo… Aduuh sori banget. Aku tiba2 harus ke Bandung nih. Pulang besok. Tadi lupa mau ngasih tahu. Ada klien tiba2 pengen ketemu ngobrolin pesanan cetakan dari luar negeri. Besar ini orderannya dan proposalku yang diterima jadi harus miting persiapan sambil ngomongin proses kontraknya. Sori ya Mas, kita belum jadi ketemu. Kunci pagar aku titipin Satpam perumahan. Aku juga udah bilang ke Satpan kalau Mas mungkin akan nginep. Mas nginep aja kalau mau, sambil jagain Nisa. Dia belum berani di rumah sendirian, terus kakakku juga lagi di luar kota jadi gak bisa jagain… Sori ya Mas. Besok aku gantiin deh aku mau diapain aja sama Mas… hihihi… Eiya aku juga belum bilang Nisa kalau Mas mau ke sini. Aku cuman pamit kalau mau ke Bandung pulangnya besok…

Mas. Mas. Kok diem aja siiih….”, Desi nyerocos aja gak ngasih kesempatan aku ngomong. Tapi mungkin dia juga merasa bersalah sudah melanggar janji ketemu. Aku yang sudah kepalang basah hampir sampai rumahnya dalam keadaan horni berat akhirnya meng-iyakan saja permintaannya.  LAPAK303 SLOT

“Iya iya… lha kamu dari tadi nyerocos terus aku belum ngomong apa-apa. Salah sendiri… OK deh gapapa. Tapi beneran lho. Besok kasih yang spesial. Pokoknya aku pengen Paramex ( istilah kami untuk anal sex – Pantat rasa memex , sesuatu yg Desi selalu menolak selama ini )”, ujarku.

“Iya deeeh… Udah dulu ya Mas. Ini sopirnya gak tau jalan kayanya. Jadi aku harus buka Waze… Wiz yo Mas (udah dulu ya Mas) hihihi… muachh…”, Desi akhirnya kabur. Meninggalkan diriku dalam kondisi kentang…
Akhirnya aku berhenti di depan gerbang perumahannya yang cukup luas dan memarkirkan Pajero Sport pemberian sepupuku sebagai hadiah sudah memenangkannya di Pilkada kemarin, di parkiran luar. Aku kemudian berjalan menghampiri pos satpam. Tetapi sebelum aku sampai, Pak Yono, salah satu satpam di situ menghampiriku tergopoh2. filmbokepjepang.com

“Bos Tyo, tadi ada pesen dari Bu Desi, katanya Bos Tyo mau nginep jagain rumah. Ini kunci pagarnya ada di saya. Tapi Bu Desi nggak ngasih saya kunci rumah. Katanya Bos Tyo sudah tahu… Sudah dulu ya Bos. Saya mau ke belakang ini. Mulas…”, kata Pak Yono sambil menyerahkan kunci pagar rumah Desi dan ngeloyor terbirit ke WC pos satpam.

(“Kampret ini orang2 pada kenapa sih nyerocos aja ngomongnya gak ngasih aku kesempatan jawab, langsung pada ngabur semua…”), batinku. Yah, tapi gak bisa juga nyalahin Pak Yono. Mungkin dia emang sudah sejak tadi kebelet tapi harus nungguin aku datang.

Aku memang sudah kenal dengan satpam-satpam di sini. Ya namanya usaha, bina lingkungan biar aku gak diganggu mereka dan malah bisa dilindungi. Sering aku kasih mereka rokok atau makanan kecil maupun besar beserta minumnya ketika aku berkunjung ke rumah Desi, meskipun aku sendiri nggak ngerokok. Aku juga sering mampir di pos sekedar ngobrol atau nemenin nonton bola satpam-satpam di sini.

Untuk kunci rumahnya, Desi sudah memberi tahu lokasi kunci cadangan rumahnya di bawah salah satu lampu taman.

Aku putuskan untuk menaruh mobilku di depan gerbang perumahan dulu saja biar dijagain Pak Yono dan berjalan kaki ke rumah Desi yang letaknya tidak jauh dari gerbang. Belum yakin juga mau nginap di sini. Keinget anakku sendiri juga nanti gak ada temannya. Mungkin aku bisa minta Nisa ngajak temennya nginep buat nemenin. Malem Minggu ini.

Sesampai di sana aku coba membuka gembok pagar, tetapi ternyata tidak terkunci. Dasar Desi. Tadi dia pasti tergesa-gesa jadi malah kelupaan nggak kunci pagarnya cuman nitipin kunci aja. Aku jadi geli sendiri.

Begitu masuk aku tutup kembali pintu pagar. Lancar sekali, batinku. Ini pasti kemarin baru diperbaiki roda-rodanya karena memang sebelumnya Desi ngeluh pagarnya susah ditutup dan berisik kalau didorong.

Aku kemudian mengambil kunci cadangan rumahnya yang merupakan kunci pintu samping belakang rumah yang langsung akses ke dapur. Sewaktu berjalan ke arah pintu luar dapur, ketika melewati kamar Nisa, anak perempuan Desi, sayup-sayup kudengar suara musik dari dalam kamar Nisa.

“Lhah, ternyata Nisa di rumah toh…. Ngapain tuh anak nggak sekolah. Apa mungkin pulang awal kali. Atau jangan-jangan bolos”, batinku.

Aku bergegas menuju pintu dapur hendak mengkonfrontir Nisa kenapa dia tidak sekolah. Segera kubuka pintu dapur, dan ya ampun, ternyata Nisa memutar musik di kamarnya dengan suara cukup keras. Dari luar tadi tidak terlalu terdengar karena memang jendela kamarnya tipe sealed untuk ruangan ber AC. Tetapi ada jendela nako antara kamar Nisa dan dapur. Dari situlah suara musik dari kamar Nisa menerobos ke dapur. Waktu aku melewati jendela nako penghubung kamar Nisa dengan dapur, kulihat kordennya tidak tertutup seluruhnya. Dan waktu kucermati pemandangan yang terlihat, sungguh mengejutkanku. Di layar komputer Nisa yang tidak terlihat seluruhnya dari tempatku berdiri, kulihat film sedang diputar. Ketika agak kucermati, ternyata film bokep JAV yang aku pernah tonton berdua dengan Desi. Ini pasti Nisa dapat nemu DVD yang disimpan Desi. Pemberianku dulu. Ceritanya adalah 2 orang gadis Jepang yang di gang bang oleh sekitar 10 orang laki-laki dan nantinya diakhiri dengan creampie (crot di dalam).

                                        Tapi Nisa tidak terlihat di kursi depan komputer. Aku jadi panas dingin. Di mana nih anak. Pikiranku sudah ke mana-mana. Jangan-jangan lagi masturbasi di tempat tidur. Tempat tidur memang tidak terlihat lewat jendela nako dari tempatku berdiri.

Akhirnya kudekati lebih dekat lagi jendela kamar Nisa agar dapat melihat situasi di kamar. Posisi lampu dapur memang mati sehingga dapur dalam kondisi gelap. Dan dapur rumah Desi termasuk kurang didesain dengan baik dari sisi penerangan alami, sehingga pada siang hari pun kondisinya gelap jika lampu tidak dihidupkan. Apalagi jika pintu samping terturup. Jauh lebih gelap daripada kamar Nisa yang lampunya sedang dihidupkan. Kusapukan pandanganku ke sekeliling kamar, mencoba mencari letak tempat tidur Queen Size Nisa.

Pemandangan yang kulihat sungguh amat sangat mengejutkanku ketika mataku menemukan letak tempat tidur Nisa….

—- Lanjutan —-

Di tempat tidur Nisa, kulihat pemandangan yang membuatku semakin panas dingin. Bayangkan saja, di atas tempat tidur, tergolek 3 sosok gadis muda yang sedang beraktivitas mesum. Pandangan ketiganya terlihat tertuju ke layar monitor komputer. 2 orang termasuk Nisa masih mengenakan seragam atasan warna putih lengan panjang dan jilbabnya pun belum dilepas meski kancing bajunya sudah terbuka separuh. Tetapi bawahan rok mereka sudah berserakan di lantai. Kulihat ada 2 rok panjang berwarna biru dan 1 rok berwarna abu-abu di lantai. Celana dalam keduanya terlihat ada di sekitar pergelangan kaki mereka. Kalau begitu 1 dari 2 gadis selain Nisa adalah siswi SMA.

Kulihat cewek yang ke-3 sudah hampir bugil total. Dia hanya mengenakan bra yang itu pun sudah turun sehingga kelihatan payudaranya yang berukuran lumayan besar menyembul menggairahkan dengan puting berwarna kecoklatan. Aku tebak ini pasti cewek yang sudah SMA. Terlihat dari jembutnya yang sudah lumayan lebat, dibandingkan dengan kedua cewek lain termasuk Nisa yang memeknya masih relatif gundul dengan jembut masih jarang.

Awalnya aku agak emosi karena ada cewek yang sudah beranjak dewasa mengajari calon anak tiriku yang sebelumnya kuanggap lugu dan masih kanak-kanak tentang kegiatan mesum semacam itu, meskipun hanya masturbasi barengan. Tapi akhirnya kuputuskan untuk melihat dulu sampai sejauh mana aktivitas mesum mereka.

Aku semakin antusias mengamati, atau lebih tepatnya semakin bernafsu mengintip kegiatan mesum ketiga cewek ABG itu.

Sudah sejak tadi kontolku ngaceng berat. Kuatur posisi kontolku yang berukuran sedang setara dengan tinggi badanku yang 180 cm. Pernah kuukur panjangnya hanya sekitar 16cm lebih sedikit.

Kemudian aku seperi tersadar dari mimpi. Aah, kenapa nggak mikir dari tadi. Aku harus merekam kegiatan mereka ini biar nanti bisa kulaporkan pada Desi bahwa anaknya, calon anakku juga, sudah berani berbuat mesum dengan teman-teman ceweknya.

Akhirnya kukeluarkan smartphoneku yang lumayan canggih dengan kamera berresolusi QHD dan merekam kegiatan mereka. Tidak lupa kupastikan bahwa kondisi profilnya silent dan lampu flash off. Jadi ketika kutekan tombol “record” video, tidak menimbulkan bunyi.   LAPAK303 SLOT

Aku mulai merekam kegiatan mesum mereka sambil sesekali mengelus kontolku yang sudah super ngaceng di dalam celana. Mereka masih asyik mengelus dan mengusap memek mereka masing-masing sambil kadang kudengar erangan dan desahan keluar dari mulut-mulut seksi mereka. Si cewek SMA itu yang kudengar paling keras erangannya dan paling agresif gerakannya mengelus mengusap memek dan terutama itilnya sambil meremas toketnya yang bulat menantang.

“Nis, ambilin tasku dong…”

Kudengar cewek SMA itu berkata kepada Nisa.

“Ah, kak Dewi gangguin aja nih. Tasnya di mana kak?”, kata Nisa. Ternyata nama cewek SMA itu Dewi.

“Itu di atas kepalanya Rani…”, jawab Dewi. Ah, cewek SMP yang satunya bernama Rani ternyata.

“Nih kak… Emang mau ngambil apaan kak?”, Nisa bertanya.

“Ah. Nanti juga elo tau…”, kata Dewi.

Dewi kemudian kulihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Nisa sementara berhenti menggosok2 memeknya sambil mengamati apa yang dilakukan Dewi. Sedangkan Rani kulihat masih merem melek sambil menggosok2 memeknya dengan intensitas yang semakin tinggi. filmbokepjepang.com

Akhirnya kulihat tubuhnya mengejang, tangan kirinya menggapai2 dan kemudian mendaptkan paha kanan Nisa dan mencengkeramnya. Rani orgasme…. Kulihat memeknya semakin merekah dan basah oleh lelehan cairan pelumas alami memeknya yang masih jarang bulunya… Rani terengah-engah sambil satu pergelangan tangannya diketakkan menutup matanya.

“Aduh capek. Aduh lemes. Gua tidur dulu yah…”, kata Rani.

“Wow. Rani dapet tuh, Nis.. Bablas molor lagi… Kamu belum ya..”, kata Dewi.

“Iya nih kak. Seperi biasa aku susah nyampe kalau sendiri..”, sahut Nisa.

“Kenapa, bilang aja minta bantuan gua. Dasar lu lonte kecil… Kimcil… hahaha”, ejek Dewi.

“Ah, kak Dewi gitu sih… Aku gak mau nanti megangin kontolan kak Dewi lho…”, kata Nisa.

“(Anjir. Kontolan… apa lagi tuh)”, batinku. Tapi aku bisa menebak itu pasti dildo yang Nisa maksud.

Benar saja. Ternyata benda yang tadi dikeluarkan Dewi dari dalam tasnya adalah sebuah dildo ukuran sedang yang ujung belakangnya ada kabel. Ini pasti jenis yang bisa muter geol2 atau minimal getar.

“(Waduh jangan2 Nisa udah pernah kemasukan itu dildo… nggak prewi lagi dong…)”, pikirku. Ini kalau Desi tahu aku tidak bisa bayangkan betapa marahnya dia. Memek anaknya sudah pernah diobok2 dildo. Tapi semoga saja belum.

Aku masih terus merekam aktivitas mereka bertiga sambil sesekali mengelus meremas kontolku sendiri. Karena tidak tahan, akhirnya kukeluarkan kontolku dari sarangnya. Kemudian di dekat jendela di pojokan ruang dapur kulihat ada kursi / bangku rias. Aku ambil untuk duduk karena lama2 pegal juga setengah menunduk mengintip Nisa dan teman2nya.

Aku juga akan lebih leluasa memegang HP sambil ikutan coli dengan posisi duduk.

Kulihat melalu layar HP 5.5″ ku Dewi mulai mengusap2kan dildonya ke memeknya yang merekah merah dan kilap karena cairan nafsunya. Benar saja ternyata dildonya tipe yang geol2 muter kepalanya. Dan ternyata melihat dari layar HP kadang lebih menggairahkan daripada melihat langsung.

“Nis, pegangin doong…”, kata Dewi.

“Boleh tapi kak Dewi sambil jilatin memek Nisa lho kaya kemarin. Enak banget kak. Tapi jarinya jangan dimasukin ya… Nisa kan masih prewi kak…”, sahut Nisa.

Ah. Syukurlah dia masih belum kehilangan mahkotanya. Aku sudah kuatir sebelumnya.

“Ayo gih sini cepetan. Kamu yang di bawah ya”, kata Dewi.

“Iya kak…”, jawab Nisa.

Yang terjadi selanjutnya membuatku tambah bernafsu. Nisa berubah posisi terlentang mengangkang dengan posisi memeknya persis menghadap jendela. Sehingga semakin jelaslah memek nyaris gundulnya dari pandanganku. Bibir dalamnya (labia minora) masih kencang belum ada jengger gelambir keluar. Warna memeknya pun tidak jauh lebih gelap dari kulitnya, sesuai dengan kulitnya yang putih. Cenderung kemerahan karena nafsu mungkin. Terlihat ada tanda2 becek di sana. Posisinya juga lumayan dekat hanya sekitar kurang dari 3 meter dari jendela nako tempatku mengintip. Sungguh sangat menggairahkan.

                                            Dewi kemudian memposisikan diri mengangkangi badan Nisa dengan kepala berada di antara kedua kaki Nisa yang mengangkang. Dewi mulai mengelus-elus pinggiran memek Nisa kemudian mendekatkan bibirnya mengecup labia mayora Nisa.

“Uhhh, geli tapi enak kaaak…”, kata Nisa.

“Tapi lu jangan enak sendiri Nis. Cepetan masukin kontolannya ke memek kakak. Jilatin dulu bentar yaa… Uh, andai saja kontol beneran yang masuk pasti enyak Nisss…. Ahhh. Pelan2. Kontolannya jangan digerakin dulu aaaah….”, Dewi protes ternyata Nisa langsung memasukkan dildonya penuh2 ke memek Dewi sambil menghidupkannya. Dewi mungkin belum cukup banyak terlumasi jadi agak sakit.

“Hihi… Sori kak. Habis lucu sih. Kira2 sama punya Om Tyo gedean mana yaaa… Aaah terus kaaak. Iya jilatin situuh..”, racau Nisa.

Buset… namaku disebut2 pula. Omigod. Apa yang Nisa pikirkan. Apakah dia ada rasa sama aku, calon ayah tirinya…

Dewi saat ini sedang menjilati memek Nisa di bagian clitorisnya sambil sesekali menyedotnya kuat2 sampai mengeluarkan bunyi kecupan yang cukup keras. Pantas saja Nisa melenguh keras2.

“Pasti gedean punya Om Tyo Nis. Tapi elu jangan ngawur, tu kan punya mama lu. Aah, terus kocok yang agak kenceng tapi jangan dalam2 Nis… uhhh”, sahut Dewi.

“Pokoknya kalau nanti jadi kawin sama mama, aku harus paksa Om Tyo ambil perawanku. Aku mau pertama kali sama Om Tyo. Aku nggak mau Om Tyo jadi punya mama doang. Aku mau kontol Om Tyooo.. ah Ooom, entotin Nisaaa.. Oooom aaah… Terus kaak, diapain memek Nisa kaak. Enak banget kaaak…. Ah Om Tyooo Nisa nyampe Oom aaaah aaah aaaaah uhhh aaah…”, Nisa terengah-engah. Sepertinya dia sudah mendapatkan orgasmenya.

Uh kontolku ngaceng sengaceng2nya dan aku teruskan mengocoknya sambil terus merekam mereka. Tidak sampai semenit akhirnya kukeluarkan pejuku tumpah di dinding bawah jendela… Puas sekali rasanya.

Tak kusangka. Ternyata Nisa memang memendam nafsu padaku. Anak umur 15th baru mau lulus SMP sudah memendam nafsu pengen ngentot dengan calon ayahnya… Ah, aku harus mencari cara yang aman untuk dapat mengabulkan keinginannya…

Nisa, kamu tidak perlu menunggu aku menikahi ibumu nak. Aku akan mengawinimu secepatnya. Perawanmu buatku nak. Terima kasih telah menjaganya untukku…

Tapi aku tidak boleh terburu2. Aku akan menggoda Nisa dengan pura2 tidak tahu.

Kuurungkan niatku semula yang hendak melaporkan Nisa ke mamanya.

Kuurungkan juga niat yang sempat terbersit untuk memeras Nisa dan temannya untuk mendapatkan memek mereka. Karena ternyata Nisa ada nafsu padaku. Ini harus kumanfaatkan sebaik2nya. Aku harus bisa lebih sering ke sini. Mendekati menggoda Nisa sambil ngentotin mamanya… Ah… kontolku jadi ngaceng lagi. Dan kulihat mereka belum selesai. Karena memang Dewi belum dapat sepertinya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terungkap Fakta Baru di Balik Pembunuhan Kacab Bank BUMN

  Jadi intinya... Rekonstruksi pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN MIP digelar dengan 17 tersangka. Rekonstruksi mengungkap penculikan MIP di...