Kamis, 17 Oktober 2024

SHINTA DICULIK RAHWANA

 

Wayang Hot: Shinta diculik Rahwana

Yang pakem adalah Rama Shinta
Episode 9
Dari Wayang Pasca Pakem Ki Broto de el el.
Shinta Purik, Ngambeg
(Aslinya Shinta diculik Rahwana)   CASINO SLOT ONLINE

Di hutan Dhandhoko, sepeninggal Lesmana, keadaan tidak menjadi lebih baik. Rama sering termenung menyendiri memandang bulan merah sambil menyenandungkan lagu-lagu putus kasih. Hatinya sedih membayangkan adik kinasih sendirian bertapa di gua yang sunyi sepi. Ia menyesal telah melepaskan orang yang paling dicintainya, demi laku satrio utomo (lelakon ksatria utama), yang sebenarnya sikap lamis. Demi ambisi politiknya untuk kembali madheg narendro (naik jadi raja) dengan mengorbankan orang yang ingin menyayanginya dan menyanding orang yang tidak begitu disayangi. Melihat kenyataan seperti itu, Shinta menyadari bahwa ia sedang menghadapi kenyataan pahit. Cinta Rama hanya untuk adi kinasih/terkasih walau orangnya telah mungkur. Yang dimiliki Shinta hanyalah sosok Rama, bukan hati Rama. Yang dihadapnya hanyalah raga Rama, bukan sukmanya. Yang digenggam Shinta hanyalah secarik kertas nikah, bukan jati diri Rama.
Sukma Rama tidak disisinya, tetapi mengembara ke gua sunyi mendengarkan dengung kidung-kidung Lesmana. Demi melihat kenyataan itu, Shinta makin merana. Ia dinikahi bukan atas dasar cinta. Ia tak lebih dari sebuah vas bunga pajangan. Entahlah, untuk menunjukkan betapa sakti dan jantannya Rama dalam memenangkan sayembara, dharma sebagai satrio utomo atau hanya sebagai andalan ambisi politik Rama. Air mata Shinta sudah habis. Shinta sudah mutung putus asa, hatinya retak berkeping-keping. Ia sudah tidak bisa lagi menangis. Harga dirinya sebagai wanita tertusuk
“Aku bukan vas bunga, aku wanita yang merindukan kasih sayang dan pelukan mesra. Aku sisihan sandingan yang seharusnya disisimu, bukan hanya status.”
Disisi lain, Shinta terhimpit rasa bersalah telah mengusir Lesmana. Salah apa dia ? Selama ini, pemuda lembut ini sikapnya sangat baik kepada Shinta, nyaris sempurna. “ Mengapa aku tega kepadanya … ? “

Makin hari hati Shinta makin kalut. Ia serba salah. Sikap Rama kepadanya baik bahkan ia rela berpisah dengan yang tersayang. Shinta tidak punya alasan apapun untuk merajuk. Ia tidak bisa memaksa Rama mencintainya. Pada suatu hari ketika Rama sedang berburu mencari makanan, Shinta nekat minggat dengan meninggalkan surat singkat yang ditulisnya pada daun-daun hutan.

Kangmas Ramawijaya
Sepeninggal dhimas Lesmana akhirnya saya menyadari bahwa cinta kasih kangmas hanya untuknya seorang. Bagi kangmas, saya tak lebih sebuah pelengkap untuk memenuhi statusmu. Kita tidak perlu berpura pura lagi bahwa kita bukan garwo, bukan sigaring nyowo(belahan jiwa). Oleh karenanya saya meninggalkan kangmas. Kita bercerai. Itulah yang terbaik bagi kita beriga, Saya akan mencari dhimas Lesmana untuk minta maaf dan memintanya kembali bersatu dengan kangmas. Kemudian, saya akan mengembara mengikuti jejak kaki. Semoga bahagia selalu.
Salam hormat
Shinta      CASINO SLOT ONLINE


                                        Tersaruk saruk Shinta meninggalkan hutan Dhandhoko. Ia benar-benar tidak tahu harus kemana pergi. Ia tidak tahu dimana Lesmana. Tidak mungkin ia pulang ke kerajaan Manthili karena ayahnya telah wanti-wanti kepadanya untuk tidak purik. Ia jerih kembali ke Rama, hatinya sakit melihat Rama hanya menatap bulan merah membayangkan Lesmana. Shinta sudah mutung, tung. Belum lagi becek, digigit nyamuk, makan tekèk, dll. Ia melangkah dan melangkah terus mengikuti langkah kakinya. Dalam bayang2 rasa bersalah karena mengusir Lesmana ….

Tanpa disadarinya ia telah keluar dari hutan Dhandhoko dan masuk laladan lain. Hutan Jantoko yang gelap pekat, tempat yang gawat ke-liwat-liwat. Jika ada sato kewan masuk, pasti mati. Apalagi jika itu bangsanya ayam, bebek, kambing, sapi. Pasti jadi ingkung, tong-sèng, empal atau steak. Jika ada manusia masuk kesitu, harusnya mati. Tetapi laladan ini lebih gawat. Yang masuk mesthi disiksa, dislomoti rokok, dan ditempilingi dulu. Banyak manusia hilang disini tanpa ketemu kuburannya. Wé lha dalah gawat nian …. , laladan apa ini ? DOM ! … daerah operasi militer. Wuaduh, lantas siapa komandan DOM-nya ? Dalam keremangan samar-samar muncul sosok tubuh tinggi besar. Rahang bawahnya panjang dan taring tunggalnya mencuat keatas mingis-mingis. … Kolonel Telik Sandi negara adidaya Alengka Diraja ! … Dityo Kolo Marico ! (Chakill)
Eèèèng … ing … èèèèèèèèèèèèng …..
+ Kiiiiiii… !
– Opo …. !
+ Gamelannya kok begitu ?
– Iki gamelan Londo, tau’ ?
+ Begini saja, Ki : mung, mung gung mung gung mung gung mung .., mung …
– Emoh ah, èlek BGT.
+ Kok jelek ?
– Suaramu pating gedhumbrèng koyo èmbèr di kepruk’i !
+ Wo, nggih …


Episode 10
Janda di Sarang Penyamun

Begitu masuk Dewi Shinta langsung diinterogasi Dityo Kolo Marico.
“ eiiiit …. ini ada cewek nan cantik jelita, … siapa kau, dari mana asalmu, ngapain kesini ? … mana ktp, sim, paspor, visa, izin kerja, daftar riwayat hidup, ppn, pajak, … dst … dst “
“… Tumbaaaaas … Aku kesini mo beli bakpia pathook … Kamu siapa ?“
“ eiiiiit … disini tidak ada bakpia pathook, adanya minyak tanah, mau ? Saya Dityo Kolo Marico van der Alengka Diraja. Siapa kau ?”
“ Wo, kamu Kolo Wahing, to ?”
“ eiiiit …, wahing ..bersin..?”
“ Lha, Mrico itu rak bikin wahing, to ? Aku Dewi Woro Shinta binti Janoko soko Manthili “
“ eiiiit …, putri Prabu Janoko, to ? …. monggo … monggo …
“ Kamu tahu keadaan Manthili ? “
“ eiiiit … tahu. Intelejen saya melaporkan keadaan Manthili sedang krisis ekonomi !
“sik, siapa bossmu …. ?”
“ eiiiit …, Sarpokenoko menko polkam itu boss dan istri saya. Rajanya ratu gung binatoro yang menguasai hutan ini Prabu Rahwana.”
“ Apakah kita bisa berbicara dengannya ?”
“eiiiit …, kebetulan, dua-tiga hari lagi mereka akan datang. Silahkan tinggal di dalem Kolo Marican, gusti Dewi“
“Bagus, aku mau buat political deal dengan sang Prabu … “
Mengetahui keadaan Manthili sedang susah darah negarawan Shinta terusik. Ia tahu bahwa Alengka adalah negara facist adidaya yang sangat kaya raya. Beberapa hari kemudian datanglah penguasa rimba Jantoko, maharaja Prabu Rahwana dengan diiringi oleh adiknya, Dewi Sarpokenoko. Prabu Rahwana tubuhnya tinggi besar dengan badan gempal penuh otot pating pethokol mirip Ade Rai, Arnold Schwarzneger, atau the Rock. Lehernya leher beton dengan rambut gimbal terurai krembyah-krembyah. Prabu Dasamuka adalah raja pemarah – bludregan. Ia tidak bisa dibilang tampan. Rahangnya pesegi kukuh yang justru memancarkan citra jantan. Matanya mudah melotot. Jika bicara seperti mem-bentak dan selalu diikuti dengan sumpah serapah. Jika berjalan selalu menghentak hentak bumi sampai serasa ada gajah lewat. Raja gung binatoro ini sangat pd, nyaris megalomania. Sarpokenoko adalah wanita militer. Tubuhnya juga tinggi besar. Dandanannya menor dan suaminya banyak. Poliandri umum diwaktu itu. Di Mahabharata Dewi Drupadi atau Dewi Pancali bersuamikan lima orang. Kol. Marico adalah salah satu suami Sarpokenoko. Setelah dikenalkan dan basa basi, Shinta mulai bicara
“Prabu Rahwana, izinkan saya bicara”
“Mau apa kau ! “ Dengus bernada bariton keluar dari rahang kukuh Rahwana.
“Negara saya miskin, kanjeng Prabu. Saya hendak minta bantuan. Sebagai imbalan, negara kami akan menyerahkan pangkalan militer “  CASINO SLOT ONLINE
“Mengapa harus membantumu, hah “ Sang raja ganas bereaksi “Tak gempur negaramu jebol ! “ Rahwana menggeram menunjukkan jati dirinya sebagai makluk ganas. Shinta yang selama ini dirundung nestapa mendapat kesempatan untuk melupakan pedih hatinya. Ia tertantang menjinakkan si buas.
“Kanjeng Prabu tidak perlu menggempur negara saya yang miskin dan lemah. Mengapa tidak menggunakan modus operandi yang lain ?“
Shinta tersenyum manis. Ia menyukai peranan barunya. Kemanapun ia pergi selalu dilelo-lelo seperti golek emas. Tidak ada seorangpun mengijinkannya bekerja keras. Sekarang ia harus meyakinkan si Penyamun. Ia menyukai peranan barunya. Semangatnya ma-kantar2. Disisi lain sang maharaja ter-heran2 ada makluk lemah dan rapuh ngèyèl. Ia selalu berhadapan dengan raja2 dan satria2 perkasa dan berujung dengan lutahing ludiro (banjir darah). Sekarang berhadapan dengan wanita. Raja besar yang kuper dengan wanita jadi kikuk. “ Modus operandi apa ? “
“Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasoraké, dan sakti tanpo aji “ Shinta menyembah takjim. “Opo kuwi, ndhuk ? “ Rahwana mulai tertarik. Ndhuk ! Shinta nyaris berteriak kegirangan, nada ndhuk-nya nada kekeluargaan. Si Penyamun sudah tidak lagi melihat dirinya sebagai mangsa ! Diusapnya keringat dingin di keningnya.

############################
Episode 11
Si Molek dan si Buas
Beauty & the Beast

“ Selama ini baginda selalu mengerahkan wadyo bolo pirang-piramg bergodo, menang dengan mengalahkan dan selalu ngagem aji2 “ Shinta mengerahkan kasudibyan salesmanshipnya. “ Sekarang kita coba menaklukkan tanpa wadyo bolo, tanpa aji-aji, dan tanpa menyakiti warga sana, bisa tidak “ Sikap Shinta mengusik “ Selama ini gusti Prabu selalu memakai modus operandi wutahing ludiro (tumpahnya darah), sekarang kita coba modus baru, kanjeng Prabu “ Wajah sangar Rahwana meredup, ia menyimak kata-kata Shinta dan Shinta mulai berkicau. Saat itu Shinta merasa bebas, lepas dari suami yang tidak mencintainya. Ia menjadi dirinya.
“Kanjeng Prabu sugih kendel bondho wani. Itu memang perlu tetapi tidak cukup“
“Opo manèh ?”
“Sugih pétung bondho kaweruh. Kaweruh itu digembol ora metosol, diguwak ora gemrosak”
“ Wuik, opo kuwi, ndhuk “
“ … ihik, hik, hiiii hikk … saya juga tidak tahu … cuma mbagusi kok … hik hik …“ Shinta terkikik sambil menutupi mulutnya. Wajahnya tampak naif dan manis. Seperti bocah ketahuan bohongnya. Sang Raja ter-bahak-bahak dikerjain gendhuk itu.
Kemudian pembicaraan bergeser, Shinta mulai bicara tentang dunia kecilnya dihutan kemarin. Tentang kembang Sepatu, Menur & Kenongo, burung Bekisar, bahkan tok-érok dengan matanya yang seperti kelereng. Dengan mata berbinar diceritakannya sayap-sayap bening bandhempo yang seperti kain sutra. Sampai larut malam. Pada hari yang lain Shinta bicara tentang dirinya yang juga manusia biasa. Ia juga wanita seperti layaknya wanita lainnya. Yang membedakannya hanya kedudukannya semata. Saat Rahwana datang menemuinya, sesekali sempat juga ia memperhatikan tubuh Rahwana yang tinggi besar, gempal, berotot, dan atletis. Bahkan tubuh Rahwana jauh lebih tegap dari pada Rama suaminya. Rahwana, jelas jauh lebih ‘macho’ dan tentu bisa membuat setiap wanita gandrung dan mabuk kepayang. Sebagai seorang wanita muda yang sudah sekian lama tak tersentuh laki-laki. Dewi Shinta beberapa kali juga sempat merasakan detak jantungnya tiba-tiba berdegup keras tak terkendali. Bulu kuduknya seringkali berdiri meremang, saat membayangkan tubuh Rahwana menyentuh dirinya. Bukan karena takut, tetapi karena terbuai oleh bayangan erotik yang tiba-tiba merangsek ke dalam benaknya. Keringat dinginnya mengucur begitu saja di seluruh permukaan tubuhnya. Tubuhnya, tiba-tiba berubah menjadi panas dan seketika otaknya tidak lagi bisa berpikir jernih. Ada gejolak gairah yang tiba-tiba menyeruak tanpa bisa dikendalikannya. Badannya bergetar hebat, lidahnya terasa menjadi kelu dan sukar untuk berkata-kata. Jari-jari tangannya yang lentik, tiba-tiba menjadi gemetar. Tubuhnya lemas dan seakan ia tidak mempunyai kekuatan untuk menggerakkannya. Hatinya sejenak menjadi resah dan gelisah. Saat ia menjawab pertanyaan Rahwana, kalimat yang terlontar dari mulut mungilnya begitu bergetar, sehingga saat mengucapkannya menjadi terbata-bata. Untunglah, Rahwana menganggap kalimat yang diucapkan terbata-bata itu, sebagai ucapan seorang yang sedang dilanda ketakutan hebat. Andai saja Rahwana tahu apa yang sedang dirasakannya, mungkin ceritanya akan menjadi lain. Selama ini dunia Rahwana adalah dunia satu dimensi. Selalu tentang darah, darah, dan darah. Malang melintang dari satu medan laga ke medan tempur lainnya, Dalam keriuhan ringkik kuda, deru campur debu, lolong kematian, sumpah serapah. Tentang bagaimana meretakkan rahang lawan. Tentang bagaimana menebang leher musuh. Tentang bagaimana memporakporandakan pertahanan lawan. Dunia lutahing ludiro … bau anyir mengikuti kemana Raja beringas ini pergi. Kini Sang Penyamun teretegun melihat dunia lain. Dunia yang tak pernah dijenguknya. Tentang Semprang yang ekornya njeprik, tentang anak-anak bebek yang namanya minthi. Kemudian tentang Ronggowarsitan; tentang Kolotidho, Kolobendu, dan Kolosubo. Tentang Unining Uninang Uninong. Sang Maharaja tergugah; ia melihat dimensi lain selain genangan darah merah. Ia mulai menyukai kicauan si burung Pipit kecil mungil, si gendhuk Shinta. Gendhuk mungil itu menghadirkan pelangi dalam hidupnya. Di sisi lain, rasa bombong merayap di hati Shinta. Berbulan di alas Dandoko serasa tidak punya arti. Di Jantoko ia melakukan peranannya nyaris sempurna. Negotiator par excellence ! The beast nyaris dijinakkannya, ia tidak lagi buas. Harga dirinya membubung naik. Mendung yang menyaput wajahnya tersibak sampai sumeblak. Kecantikannya kembali mencorong seperti bulan moblong2. Semua orang terpesona oleh kecantikannya tetapi si buas ini tidak. Ia sudah tuwuk dengan gadis cantik. Baginya, mencari gadis ayu semudah memijit buah Ranti. Ia lebih menyukai kicauannya dan Shinta sangat berbahagia dengan sorot mata menyanjung dari si buas. Hati Shinta ber-bunga2. Ia merasa bebas, seperti burung terbang diangkasa melayang-layang. Shinta menjadi sedikit liar. Malam itu bulan purnama. Shinta & Rahwana bercengkerama berdua dipinggir sebuah sungai. Entah apa yang sedang terjadi, mungkin Bathara Kamajaya sedang lewat disitu. Atau Shinta ikut-ikutan meminum anggur Sang Penyamun yang membuatnya sedikit pusing. Suasana begitu indah dan Shinta tergerak untuk mengeramasi rambut Sang Penyamun yang gimbal dan krembyah-krembyah. Sang maharaja manut, ia telentang
dipinggiran pasir kali yang basah. Dibiarkannya gendhuk mungil itu membasahi rambutnya. Sambil berdendang, Shinta mengeramasi rambut Sang prabu. Kemudian dibasuhnya muka Sang Raja sambil tiap kali membetulkan kemben yang lobok. Kemben pinjaman mbakyu Sarpokenoko kedodoran. Selalu mlotrak mlotrok.


                                                Episode 12

Julang Pilar Legam

Lama-lama Shinta gregeten. Kemben akhirnya ditanggalkannya dan ia bertelanjang dada. Sepasang cengkir gading yang indah bergelantungan dengan bebasnya. Shinta membasuh leher Rahwana, kemudian kebawah, mengusap badan Sang prabu yang penuh bulu. Badannya bergoyang dan terkadang sepasang cengkir gading itu berayun-ayun menyapu badan Rahwana. Ketika membasuh lengan, telapak tangan Sang Raja dilekatkannya ke dadanya. Ketika sampai ke pinggang Sang Raja, tanpa wigah wigih disingkapnya kain Rahwana. Janda muda itu terkesiap nyaris terpekik. Ada pilar menjulang tegak. Seperti batu gilang hitam legam. Besar. Untuk sesaat Shinta terpana dan terasa darahnya berdesir. Diambilnya segayung air dan disiramnya pilar hitam itu. Kemudian diusapnya pilar itu. Jari2 lentiknya tampak mungil menyusuri pilar yang menjulang seolah menuding indahnya Sang Ratri. Lalu dikecupnya mahkota pilar itu. Seolah mengecup sekuntum mawar. Bukan mawar merah atau putih, mawar hitam. Mulutnya tampak kecil, apalagi ketika pilar itu masuk kemulutnya. Beberapa saat pilar itu diantara kemungilan jari-jari lentik dan mulutnya. Lalu didekapnya pilar itu kedadanya. Pilar itu terasa hangat. Dan putik sepasang cengkir gading itu merona ke-merahan. Tiba-tiba Shinta merasa ada yang basah mbrebes mili dari dirinya, dan hangat. Sembari berdiri dibukanya kain yang menutup tubuhnya. Ia kini berdiri tanpa sehelai benangpun dan rembulan membuatnya seperti bersinar gilang gemilang. Rahwana memandangi tubuh mungil indah itu. Dan pilar legam itu terangguk-angguk, seolah memengagumi keindahan tubuh molek itu. Shinta merebahkan badannya kepaha Rahwana. Seperti cecak ia merayap ke tubuh Dasamuka yang terlentang. Pelan-pelan ke atas sambil menciumi seluruh tubuh Sang Penguasa rimba Jantoko. Cengkir gadingnya menyusuri tubuh Rahwana yang penuh bulu. Dua-duanya tergetar. Terasa bagai ada dua butir kerikil diujung cengkir gadingnya menyentuh tubuh Sang Raja. Akirnya Shinta sampai keatas, nafaspun menderu. Dikecupnya pipi Sang Penyamun dan kemudian didapatnya mulut Sang Raja. … sensor … sensor …. sensor ….

Ini yang di sensor:
Sensor OFF. . .

Bergegas mereka pergi ke bangunan utama keratin Alengka dan langsung masuk kamar tidur keprabon. Rahwana menendang pintu “blaam” hingga tertutup. Mereka bergulingan di kasur yang empuk dengan nafas terengah-engah. Desah nafas keduanya makin menderu. Tangan Shinta me-raba-raba mencari-cari pilar itu. Antara gairah dan sedikit takut karena pilar yang kelewat besar bagi tangan Shinta. Ukuran kejantanan Rahwana ini pas sekali dalam genggaman tangan mungil wanita itu, ukurannya yang besar sangat cocok dengan postur tubuh Sang Penguasa dan ini sangat mempesona bagi Shinta. Urat – urat yang mengitari batang kejantanan Rahwana berdenyut dalam genggaman tangan wanita itu; wanita cantik itu tak bisa menghindari kekagumannya pada alat vital Sang Penguasa namun seperti anggota tubuh yang telah dipasangi susuk, Shinta tidak bisa melepas pandangan dari kejantanan pria itu. Ingin sekali rasanya wanita itu merasakan kejantanan Rahwana itu di dalam garba kewanitaannya, ia tidak yakin benda besar dan panjang ini bisa masuk seluruhnya, tapi… Shinta seharusnya tidak akan mengijinkan Rahwana menyetubuhinya. Ya. Itu pasti. Tidak mungkin. Mestinya tidak boleh, namun ia telah mantab akan meninggalkan suaminya yang bisex dan hanya peduli kepada Lesmana itu.
Tangan Rahwana meraih pergelangan tangan Shinta dan membimbing mengocok kejantanannya secara perlahan. Kejantanan Rahwana yang hitam, besar dan panjang membuat wanita itu sangat terpesona. Penis Rahwana jauh lebih gemuk daripada milik suami yang ditinggalakannya, lebih panjang dan sangat keras. Panjangnya melebihi milik Rama. Hitam… besar… panjang…
Setelah beberapa saat membiarkan tangan Rahwana membimbingnya, Shinta tidak membutuhkan dorongan apapun lagi untuk terus menikmati kemantapan alat kelamin Sang Penguasa ketika Rahwana melepas tangannya, Shinta masih terus mengocok kejantanan raksasa itu. Apa yang dimiliki itu tak akan mengingkari hukum alam, bagaimana orang sebesar dan sehitam Rahwana semestinya memang memiliki penis yang seperti ini! Begitu besar dan panjang… tangan Shinta bergerak turun ke pangkal batang kejantanan pria itu, mengagumi ukuran kejantanan yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Nafas wanita itu makin berat, nafsunya mengambil alih, birahinya makin meningkat. Wanita itu tidak akan keberatan kalau benda ini dicoba dimasukkan ke dalam liang kenikmatannya… tapi… tapi…
Saat itulah Rahwana mendorong jarinya yang panjang ke dalam bagian terlarang milik Shinta. Terpengaruh oleh rangsangan bertubi, Shinta mencoba menyikapi dengan kesadaran yang tersisa. Hanya ada satu konsekuensi yang akan ia peroleh jika mengijinkan Rahwana melakukan rangsangan lagi, dan hal itu mestinya tidak boleh terjadi. Shinta berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Dia telah pernah menikah. Dia barangkali mencintai Rama, suaminya, tapi kini di negeri asing ini belum tentu. Dia belum mencintai Sang Penguasa ini karena baru berkenalan. Tubuhnya hanya pernah dimiliki Rama, mantan suaminya. Dia seharusnya tidak boleh membiarkan ini semua berlanjut sebelum urusannya clear dengan mantan suaminya!
“Lepaskan aku dulu kang mas, baiknya kita omong-omong saja dulu!” tuntut si seksi itu. Tapi Rahwana tidak menghiraukannya.
“Strategi militer kita bicarakan nanti saja nduk cah ayu,” tukas Rahwana. Bibir pria hitam dan tinggi besar itu masih terus memagut leher putih mulus milik wanita itu. Jari jemari Rahwana menusuk lebih ke dalam. Kaki Shinta menggeliat dan menjepit tangan Sang Penguasa ia berusaha menarik tangan Rahwana keluar dari selangkangannya.
“Ini sudah keterlaluan, kita tidak boleh melakukan ini dulu! Aku ini menawarkan kerjasama militer!” Ia coba berdiplomasi.
“Ini duluan tak papa toh?” Raksasa itu mana peduli, ia malah nyengir ketika dia diingatkan bahwa tubuh molek yang menggiurkan yang sedang menggeliat di bawah tubuhnya ini adalah milik laki – laki lain, tubuh seorang ratu bahkan! (Rahwana belum tahu bahwa Shinta telah menceraikan Suaminya secara sepihak) Dengan nekat Rahwana memutarkan jarinya di bibir kemaluan Shinta yang makin lama makin basah, lalu menusukkan jarinya itu ke dalam kewanitaan Shinta lebih dalam lagi.

Ketika jari Rahwana melesak masuk, tanpa sadar wanita itu meremas kejantanan Rahwana dengan kencang. Penis itu begitu besar dan keras, wanita itu seakan tak mampu menggenggamnya utuh karena ukuran lingkarnya yang sangat besar. Dia tak pernah menduga orang sebesar Rahwana memiliki penis yang malahan sedemikian besarnya, ia sudah memperkirakan ukurannya, tapi penis milik Rahwana ini melebihi semua imajinasi liarnya. Batang kejantanan hitam besar milik Rahwana berdenyut dalam genggaman tangan Shinta yang halus, si cantik itu bisa merasakan denyut yang bergerak di urat yang bertonjolan di batang yang terisi oleh desakan darah dan sperma yang siap diledakkan. Raksasa itu menarik jarinya dan merubah posisi. Ia mengangkat tubuhnya sehingga Shinta kini bisa melihat langsung ukuran sebenarnya batang kejantanan laki – laki yang baru saja menindihnya. Mata indah si cantik itu langsung terbelalak! Luar biasa besarnya! Jauh lebih besar daripada milik Rama atau . . . apalagi Lesmana yang setengah banci itu!
“Oh Jagad dewa bathara!” desis Shinta yang terkejut.
Raksasa itu meringis. Dia bangga dan bahagia melihat reaksi tamu agungnya yang terkejut saat melihat ukuran kejantanannya. Reaksi jujur yang ditunjukkan oleh wanita itu sungguh sedap baginya. Rasa ketakutan karena tak ingin ketahuan, perasaan bersalah, nafsu yang menggelegak yang sangat terlihat di wajah wanita itu adalah keindahan sempurna bagi pria itu. Inilah yang membuatnya terangsang hebat. Shinta memang bukan seorang perawan, tapi Rahwana memperkirakan tusukan pertama penetrasinya akan seret sekali, karena walaupun sudah pernah berkali – kali melayani nafsu suaminya, garba wanita itu masih sangat mungil. Shinta memandang penis Rahwana dengan penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Seakan ia berhadapan langsung dengan seekor ular nogotaksoko dan takut untuk menggerakkan tubuh sedikitpun. Bagi pria itu, menyaksikan konflik batin Shinta yang jelita itu sungguh suatu kenikmatan yang tak terkira.
“Cah ayu, apakah kamu inginkan yang ini nduk? Bukankah lebih baik kita nikmati saja malam yang indah ini?”
Shinta menatap Rahwana bingung, apa maksud kata – katanya itu?
Raksasa itu tersenyum dan mengulangi lagi ucapannya, “setelah selama ini bersuamikan laki – laki hebat tapi pervert setengah homo seperti Rama … apakah begini yang kamu inginkan denok deblong? Senjata pusaka sejati dari laki-laki sejati seperti ini nduk?”
Wajah Shinta memerah karena jengah. Ia jengkel dan kesal pada sikap Rahwana yang arogan, tapi memang benar apa kata sang raja itu – wanita itu sangat tertarik mencicipi kejantanan milik Rahwana yang luar biasa besarnya. Warna merah jambu karena malu merambati pipi wanita ini. Kejantanan sejati… Senjata Pusaka sejati… laki-laki sejati .. .. kata – kata itu terus berulang di otak Shinta yang makin kalut. Tidak mungkin ada penis sebesar itu! Terlalu besar dan panjang! Batin Shinta dalam hati. Setahunya lewat visidi beli di pasar gembrong yang pernah ditontonnya, tidak mungkin ada penis yang batangnya hampir sama besarnya dengan pergelangan tangan wanita itu! Ia lupa bahwa anak-anak kecil di Mantili saja sudah sering melihat ‘barang’ milik para raksasa negro Afrika yang besar dan panjang dari warnet bahkan milik para raksasa di pelosok kampung dan kota-kota kerajaan Mantili. Ketika Rahwana berpindah posisi dan kedua tangannya kini berada di bawah kain wanita itu, Shinta yang jelita itu bisa melihat dengan jelas batang penis pria itu! Shinta terbata – bata melihat panjang penis pria itu. Tidak akan muat! Benda ini tidak akan muat masuk ke dalam bawuknya yang mungil! Benda itu akan menghancurkan rahimnya! Batin Shinta lagi.
“Terlalu panjang dan besar…” desis Shinta perlahan.
Nafasnya kembang kempis, ada desakan berat di dalam dadanya, di tenggorokan dan dalam pikirannya. Panas menghentak – hentak membuat birahi wanita itu meninggi, ada kehausan luar biasa yang ditimbulkan pemandangan indah yang diberikan Rahwana pada lubang kemaluan Shinta. Rahwana tersenyum ketika wanita cantik itu menggerakkan pinggulnya keatas tanpa sadar, mengikuti gerakan tangan Rahwana mendekap pinggang dan memepetkan bunga basah yang mungil itu ke tubuhnya.
Shinta telah menyerah kepada sang rajanya…
Shinta telah ditaklukkan…
“Ya jagad dewa! Apa yang… maaf kakanda Rama, suamiku…” pikirnya.

Raksasa itu tersenyum, lagi – lagi laki – laki besar berotot berkulit hitam itu menempelkan bibirnya ke bibir tipis wanita itu, mengatupkan mulutnya ke mulut Shinta dengan satu ciuman penuh nafsu. Apapun kata – kata yang hendak diucapkan Shinta, semua permohonan dan penolakannya, luruh oleh ciuman itu. Shinta menggeser kepalanya mencoba menghindar dari ciuman Sang Penguasa tapi gerakan itu justru membuat Rahwana mendapatkan akses ke arah telinganya yang seputih pualam. Raksasa itu tidak berhenti di bibir wanita itu, lidahnya menjilat pipi dan telinga si cantik itu, masuk ke dalam telinganya, memutar dan merasakan tiap sisi kecantikan parasnya. Dada bidang Rahwana bisa merasakan kehangatan yang dihadirkan buah dada cengkir gading Shinta yang menempel kepadanya, mendorongnya naik turun seiring emosi dan nafsu yang menggelora di badan sang Shinta. Shinta tidak bisa menghindar dari rangsangan hebat yang dilakukan Rahwana pada telinga dan pipi dan dadanya, tubuhnya bergetar dan menggelinjang. Tangan Rahwana merenggangkan kedua paha Shinta, menekuknya sampai se-pinggul. Raksasa itu memposisikan dirinya di antara kedua kaki sang kekasih. Shinta menyadari apa yang tengah ia hadapi. Godaan lidah Rahwana yang terus menjilati wajah dan telinganya tak berbelaskasihan… sekaligus menggairahkan. Rahwana yang berkulit gelap itu benar – benar tahu bagaimana caranya membuatnya bergairah! Sangat nakal, sangat… terlarang. Shinta memiringkan kepala, membuat telinganya jauh dari jangkauan lidah pria itu, ia menatap pria yang tengah menggumulinya dan hendak memintanya berhenti. Ia menatap mata pria itu… mata yang penuh dengan hasrat dan nafsu. Nafsu birahi untuk menggauli tubuh indahnya. Batin wanita itu dipenuhi perasaan yang berkecamuk dan menggelora. Dia bingung, jantungnya berdebar kencang dan nafasnya kembang kempis naik turun. Bukannya menolak laki – laki yang bukan suaminya, Shinta malah menggoyang pinggul karena tak tahan godaannya. Ia malu sekali. Ia ingin memaki – maki dirinya sendiri yang tak mampu menahan birahinya, namun ketika mulut Rahwana mencium bibirnya, wanita itu tak mampu melawan sedikitpun. Bibirnya yang indah membuka sedikit untuk menerima serangan nafsu dari sang raja yang digdaya. Ketika lidah Rahwana masuk ke dalam mulutnya, lidah wanita itu menyambut dan keduanya segera bertemu dalam pertempuran nafsu. Ujung pusaka Rahwana yang jelas tak bersunat itu menyentuh bibir mbakyu T wanita itu, batang kejantanan laki – laki perkasa itu siap dilesakkan ke dalam liang cinta sang Shinta yang jelita. (mbakyu T = miss Tempik, miss V) Tentu di India Selatan tak ada budaya sunat-menyunat, namun kulup penis yang telah diplorotkan membuat mata indah milik wanita itu menyala karena kaget. Dengan pandangan bingung, wanita cantik itu menatap mata buas penuh nafsu milik Rahwana yang sedang memeluk dan menciuminya. Raksasa itu menatap mangsanya dengan senyum penuh gairah. Dia sangat menyukai saat – saat seperti ini, saat di mana wanita yang hendak ia tiduri menatap tak percaya kepadanya. Mata wanita itu terbelalak lebar karena tahu penis hitam milik raja yang digdaya sudah siap masuk ke dalam liangnya yang mungil. Rahwana mendorong pantatnya ke depan dan melepaskan ciuman dari mulut wanita itu.
“Ja – Jangan! Jangan…!! Kamu tidak boleh…” wanita itu mencoba melawan.
Raksasa itu menusuk lagi. Akhirnya ia benar – benar menembus gerbang garba wanita itu.
“Ahhhhhhhh!!!” jerit wanita itu tertahan.
Ia lalu berhenti. Rahwana kaget sekaligus senang ketika tahu bahwa vagina wanita itu ternyata masih cukup sempit dan rapat, batang penisnya yang masuk ke dalam liang kenikmatan wanita itu seperti dihimpit oleh dinding basah yang rapat dan nyaman, memberikan kehangatan yang lain daripada yang lain. Setelah tidur dengan Rama, perji (farji, vagina) mungil itu masih tetap seperti milik seorang pengantin baru. Rahwana menggerakkan badan ke depan, menusukkan kejantanannya ke mbakyu perji Shinta lebih dalam lagi. Masuknya batang penis Rahwana yang menjajah mbakyu Tnya sedikit demi sedikit membuat wanita itu secara refleks membuka kakinya lebar – lebar. Rahwana mengangkat pinggul wanita itu yang seksi dan mengangkatnya tinggi sementara dia melanjutkan niatnya menumbuk sang bidadari. Hampir tiga perempat bagian batangnya sudah masuk ke dalam, melewati bibir vagina wanita itu yang basah dan merah. Rahwana menusuk sekali lagi, menambah kedalaman batangnya.

“Ooooooh… jangan… aku tidak kuat lagi!”
Raksasa itu tertawa penuh kemenangan dan mendorong penisnya lagi. Pinggul wanita itu mulai tersentak – sentak tak teratur di bawah pelukan raja yang digdaya, kakinya yang jenjang meronta – ronta. Wanita itu mencoba mendorong tubuh pria itu, ia mencoba memberontak meskipun semuanya sia – sia, Rahwana masih tetap bertahan. Justru karena wanita itu memberontak, batang penis laki – laki raksasa itu makin membenam di dalam liang cintanya. Akhirnya si cantik itu menyerah, batang kejantanan raja yang digdaya itu sudah terlalu dalam terbenam dan kewanitaannya sudah menangkupnya dengan erat, tak akan ada gunanya melawan apalagi mencoba mendorong pria itu. Dia memang harus rela disetubuhi pria itu seperti yang telah dimulai Shinta terlebih dulu. Kalimat itu membuat gemetar seluruh tubuh wanita itu. Dia berlagak tak mampu berbuat apa – apa lagi! Dia hanya bisa pasrah! Dia akan segera mendapat kenikmatan luar biasa disetubuhi sang raja! Nafsu birahi yang bercampur dalam benak sang Shinta membuatnya sangat bergairah. Ada perasaan aneh yang menyapu tubuh wanita itu, gairah sensasi birahi yang menyelimuti dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Ia mulai terbiasa dengan ukuran kejantanan pria itu. Kewanitaannya yang terus disiksa oleh kenikmatan mulai lengket pada batang penis raja yang digdaya, dinding garba wanita itu mulai merenggang dan menyesuaikan dengan ukuran penis yang menginvasi. Namun… ketika wanita itu sudah bersiap, tiba – tiba saja Rahwana berhenti. Setelah beberapa detik tanpa ada gerakan, wanita itu akhirnya sadar Rahwana sudah berhenti menusuk. Ketika mata indah Shinta yang cantik itu melihat ke tubuh yang menguasainya, Rahwana rupanya tengah terdiam dan menikmati saat – saat yang sangat diimpikannya, yaitu saat penisnya masuk ke dalam vagina wanita itu. Otot vagina wanita itu berkedut meremas penis yang ditusukkan ke dalam, menyebarkan sentakan birahi ke seluruh tubuh wanita itu. Wanita cantik itu puas sekaligus malu karena bagian dalam tubuhnya seakan membelai batang kejantanan pria itu dengan kedutan-kedutan halus. Bagaimanapun caranya wanita itu masih mencoba untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Ketika wanita itu melihat ke atas, ia melihat Rahwana menatapnya tajam, merekapun saling bertatapan. Wajah wanita itu memerah karena malu.
“Su… sudah semua? A… apa sudah masuk semua?” tanya wanita itu.
Raksasa itu menyeringai. “Belum cah ayu.”
Raksasa berkulit gelap itu mengeluskan tangannya di lekuk pinggang wanita itu, menikmati kehalusan kulit sang bidadari, naik ke atas, lalu menggenggam erat lengan mungil Shinta.
“Belum, ini belum masuk semua cah ayu, apa wis merasa enak?” tambah pria itu. Ia tersenyum, jelek wajahnya namun punya pesona tersendiri, dan menusuk lagi.
Betapa nikmatnya melihat wajah wanita itu yang terkejut oleh jangkauan tusukannya. Kali ini Rahwana memeluk erat wanita itu supaya posisi mereka tidak berubah dan ia bisa menusuk lebih dalam. Rahwana sangat menyukai cengkraman vagina wanita itu yang seperti tangan yang erat menangkup batang kejantanannya. Tusukan penis panjang itu bagai melawan dinding rahim wanita itu dan menembus terus ke dalam rintangan yang sebelumnya belum pernah ditembus oleh penis lain.
“Ooooooh… Ya jagad dewa bathara… oooooh.” Desah wanita itu.
Raksasa itu melepas satu tangan dan meraih rambut panjang wanita itu, ia menjambak rambut si cantik itu dan membuat kepalanya tertarik ke belakang. Wanita itu berteriak kesakitan, tapi rasa sakit itu seiring dengan gelombang nikmat sodokan di selangkangannya. Vagina wanita itu meremas penis Rahwana dengan otot lingkarnya tiap kali benda panjang yang keras itu masuk dan mencoba menjelajah ke dalam.

Beberapa saat kemudian, wanita itu bisa merasakan tamparan kantung pelir Rahwana yang mengenai pantatnya. Saat itulah wanita itu sadar, kalau kantung kontal-kantil Rahwana telah menempel di pantatnya, itu artinya batang kejantanan raja yang digdaya itu telah masuk seluruhnya ke dalam vaginanya! Secara insting, wanita itu mulai menggoyang pantatnya.
Raksasa itu menatap ke bawah, dia menikmati kecantikan alami wanita itu, dia menikmati halusnya leher jenjang wanita itu, dia menikmati matanya yang lebar, hidung mancungnya dan nafasnya yang kembang kempis. Mata si cantik itu kabur, Rahwana memberi kesempatan pada wanita itu untuk mengembalikan kesadaran, ketika akhirnya mata indah itu menatapnya tajam, Rahwana tersenyum penuh kegembiraan pada wanita itu. Wanita cantik itu membalasnya dengan senyuman lemah.
“Sekarang cah ayu,” kata pria itu, “saatnya kita berdua menikmatinya, Shinta yang denok.”
Mata wanita itu terbelalak melebar, dia terkejut oleh situasi dan kata – kata yang dikeluarkan raja yang digdaya ini. Tapi Rahwana lebih terkejut lagi ketika dia merasakan kaki jenjang wanita itu melingkar di pinggangnya. Raksasa itu tersenyum lagi, kali ini wanita itu membalasnya dengan gugup. Lalu Rahwana mulai menyetubuhinya. Wanita itu melenguh dan mengerang penuh nafsu ketika Rahwana menarik diri dan kemudian menusuk dengan kekuatan penuh. Berulang kali Rahwana mengangkat pinggulnya dan menjatuhkan diri ke dalam selangkangan wanita itu yang terbuka lebar. Rahwana menikmati kelembutan paha dalam wanita itu yang bagaikan sutra ketika tamunya ini mengikat pinggulnya dan menariknya ke bawah. Tamunya yang seksi takluk akan kenikmatan birahi di bawah pelukannya! Apakah ada yang lebih nikmat daripada ini?
Tentu saja ada, bagi Sang Penguasa kenikmatan puncaknya adalah ketika dia menyemburkan spermanya dan berharap ia bisa menghamili wanita sesempurna wanita itu. Itu akan jadi hal yang terindah baginya. Raksasa itu merenggut pundak wanita itu dan menikmati tiap jengkal kedalaman tempiknya, ia terus mendorong penisnya dan mengacak-acak vagina yang hanya pernah menjadi milik kesatria Rama suami wanita cantik yang kini meringkuk dalam pelukannya. Bagi Sang Penguasa sesaknya lorong vagina perempuan itu adalah surga yang menjadi nyata.
Kenikmatan yang terlalu berlebih membuat wanita itu tak kuat lagi, ia melolong ketika cairan cintanya mengalir. Ratapan yang keluar dari mulut wanita itu bertolak belakang dengan orgasme yang keluar dalam liang kenikmatannya. Rahwana merasakan getaran pada tubuh indah yang kini berada di bawahnya, ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi genjotannya.
“Jangan Kakang… sudah… sudah cukup… aku sudah keluar… sudah…”
Raksasa itu hanya tertawa dan meneruskan gerakan maju mundurnya.
“Oh Jagad Dewa! Sudahlah, Kakang! Sudah cukup… aku tidak kuat lagi… kamu dengar tidak? Aku sudah keluar… aku tidak kuat…”
Raksasa itu hanya mempedulikan sedikit rengekan wanita itu dan meneruskan gerakannya. Wanita itu menggeliat dan meronta, mencoba mendorong tubuh pria itu. Tapi raksasa itu lebih kencang memegang tubuhnya, ia juga lebih kuat dan lebih bernafsu. Tiba – tiba saja tubuh wanita itu mengejang, dengan satu lolongan bernafsu, wanita itu sampai di puncak kenikmatannya yang kedua. Wanita cantik itu tersentak – sentak dan bergetar akibat sensasi luar biasa yang berasal dari tubuh bagian bawahnya. Si cantik itu tidak percaya, kaget dan terkejut… belum pernah ia mengalami puncak kenikmatan birahi seperti ini sebelumnya…

Sekian lama ia bersuami seorang kesatria, Shinta tidak pernah merasakan dirinya begitu nikmat. Suksmanya serasa terbang melayang ke awan. Selama ini ia merasakan suami yang setengah hati, yang stereo. Dengan tonjolan yang juga setengah hidup karena membayangkan Lesmana saja, seperti plembungan kurang angin. Kini ia merasakan tenaga sebatang tonggak legam. Tubuh Shinta meregang, bergetar dan denyut-denyut itu terasa nikmat. Ahhhhh …. , Wanita itu ambruk dalam pelukan Sang Penguasa puas dan pasrah. Tidak ada gunanya melawan. Rahwana meneruskan aksinya menggoyang dan menusuk garba wanita itu sekuat tenaga, memberikan serangan bergelombang di antara selangkangan sang wanita idaman yang mengikat pinggulnya dengan kaki yang jenjang. Gelombang orgasme membuat Shinta lemas, ia tidak lagi melawan dan membiarkan Rahwana melakukan apa saja dengan tubuhnya. Rahwana adalah seorang pria kuat yang telah mengambil apa yang ia inginkan dan dari apa yang baru saja Shinta alami, ia gembira sekali Rahwana menginginkannya. Kehangatan yang lembek terasa di sekitar selangkangan dan pinggang wanita itu, si cantik itu segera sadar kalau Rahwana akhirnya mencapai puncak orgasme. Semprotan pejuh Rahwana melesat jauh ke rahim wanita itu, tubuh wanita cantik itu bergetar seakan menunggu – nunggu bibit unggul yang ditanam oleh raksasa berkulit hitam yang bukan suami ini. Raksasa itu menarik kejantanannya dengan pelan, batangnya yang tebal dan panjang penuh dengan lumuran cairan cinta yang tercampur dari keduanya.
“Saya mencintaimu Shinta.” kata Rahwana dengan bersungguh – sungguh.
“Be… benarkah?”
Rahwana mengangguk, sudah kepalang basah, ia tidak akan mundur lagi. Ia benar – benar telah mencintai Shinta. Tidak masalah kalau ia ditolak dan harus mengundurkan diri menjadi raja penyamun lagi karena toh Shinta istri kesatria yang terkenal, yang penting, ia telah melindungi wanita yang ia cintai dan membuktikan cintanya. Shinta masih terus menatap mata Rahwana dengan pandangan berlinang. Lalu… dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Shinta menyorongkan kepala ke atas, menarik kepala Rahwana ke bawah, dan mencium bibirnya dengan lembut. Rahwana kaget sekali melihat reaksi Shinta ini, ia tidak mengira tamunya itu akan menciumnya. Namun Shinta adalah wanita yang sangat diidam – idamkannya. Mendapat ciuman dari Shinta bagaikan mendapat anugerah yang tak ternilai harganya. Rahwana membalas ciuman Shinta dengan sapuan lembut di bibir. Mereka saling melumat dan memberikan nafas, menyapu bibir dan lidah dengan kelembutan. Setelah lama tak merasakannya, baru kali inilah Rahwana sadar, ia telah memperoleh apa yang telah ia damba selepas kehidupan kelamnya, ia telah memperoleh cinta. Setelah cukup lama mereka berciuman lembut, Shinta akhirnya melepas bibir Rahwana. Rahwana terdiam tak mampu bicara, bibirnya bergetar karena merasakan keindahan yang telah lama ia idam – idamkan.
“Mas…”
“I… Iya, manis?”
“Maukah kamu selalu tidur hanya denganku?” Pandangan mata Rahwana terbelalak kaget.
Secara jujur Dewi Sinta juga mengakui di dalam hati (hal ini secara diam-diam juga sering diutarakan kepada Dewi Trijatha), bahwa Rahwana dipandang dari satu segi, memang telah melakukan banyak kejahatan. Namun, dari segi lainnya, selama ini, ia selalu mendapat perlakuan yang sangat baik dan sopan oleh Rahwana. Dari berita dan cerita yang diterimanya dari berbagai pihak secara sembunyi-sembunyi, Dewi Sinta juga mendengar berbagai kabar tentang Rahwana. Sebagian besar kabar yang diterimanya itu, menceritakan bahwa Rahwana telah berubah menjadi orang yang gembira, penuh senyum, dan bahkan suasana istana sudah sangat berubah. Semua berita tentang Rahwana, ternyata merupakan berita yang sangat positif. Dewi Sinta sebenarnya juga berpikir, bahwa jika Rahwana benar-benar orang jahat, maka pada hari pertama saat ia datang, bisa saja ia langsung diperkosa dan ditinggalkan begitu saja oleh Rahwana. Tetapi kenyataannya, Dewi Sinta tidak pernah mengalami hal itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terungkap Fakta Baru di Balik Pembunuhan Kacab Bank BUMN

  Jadi intinya... Rekonstruksi pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN MIP digelar dengan 17 tersangka. Rekonstruksi mengungkap penculikan MIP di...