Jadi intinya...
- Rekonstruksi pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN MIP digelar dengan 17 tersangka.
- Rekonstruksi mengungkap penculikan MIP direncanakan matang, melibatkan oknum TNI.
- Keluarga korban menuntut penerapan pasal pembunuhan berencana bagi para pelaku.
Kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN, kini memasuki babak baru. Polisi telah menggelar rekonstruksi pembunuhan MIP di depan Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, pada Senin 17 November 2025.
Dalam rekonstruksi ini, 17 tersangka baik warga sipil maupun oknum TNI dihadirkan secara langsung dengan mengenakan baju tahanan. Mereka memperagakan adegan demi adegan sesuai peran masing-masing, dengan dipandu penyidik Iptu Tugianto.
Jaksa, Polisi Militer, dan sejumlah instansi terkait dom88 mengawasi jalannya rekonstruksi untuk memastikan seluruh rangkaian perbuatan para pelaku tergambar dengan jelas. Sementara itu, pihak keluarga Kepala Cabang Bank juga turut hadir menyaksikan proses rekonstruksi secara langsung.
Terungkap Fakta Baru
Dari proses rekonstruksi ini, terungkap fakta baru bahwa penculikan MIP dilakukan secara matang. Rangkaian aksi mereka, mulai dari persiapan, eksekusi, hingga berakhir di tanah kosong Bekasi.
Aksi ini berawal ketika Erasmus Wawo dan kelompoknya berkumpul di sebuah warung kopi. Saat itu, mereka sepakat melancarkan penculikan terhadap kepala cabang bank yang telah lama menjadi target mereka.
Dari sinilah Kopda Feri Herianto, menyerahkan uang Rp 350 ribu kepada Reviando Aquinas Handi untuk membeli perlengkapan seperti lakban, handuk kecil, masker, serta beberapa bungkus rokok.
Setelah persiapan rampung, lima orang yaitu Erasmus Wawo, Andre Tomatala, Johannes Ronald Sebenan, Emanuel Woda Bertho, Reviando Aquinas Handi berangkat dengan Avanza putih.
Kopda Feri Herianto memilih menggunakan Calya bersama Serka Frengky Yaru. Dua mobil itu menuju Lotte Mart, mobil Feri di depan, Avanza di belakang.
Dalam perjalanan, Avanza sempat berhenti. Erasmus Wawo turun dan menutup dua digit pelat nomor mobil dengan lakban hitam.
Setelah rapi, rombongan melanjutkan perjalanan. Setiba di lokasi, Emanuel Woda Bertho melakukan tapping masuk parkiran. Tak lama, Ertiga hitam milik korban ikut masuk dan terparkir.
Avanza putih menunggu di belakang mobil korban. Saat MIP muncul dan menuju kendaraannya, Kopda Feri Herianto mengabari Erasmus Wawo target sudah tiba.
Erasmus Wawo dan Andre Tomatala segera turun, langsung memaksa korban masuk ke Avanza.
Korban Meronta dan Sempat Minta Tolong
Korban kemudian meronta, namun Reviando Aquinas Handi menarik kerah bajunya, sementara Andre Tomatala memegang tubuh sebelah kiri korban dan Erasmus Wawo menutup mata serta mulut korban dengan lakban.
Begitu mobil bergerak, Erasmus Wawo melapor ke Kopda Feri Herianto korban berhasil diambil.
Dalam perjalanan melewati depan Kodam Jaya, korban kembali berontak. Erasmus Wawo menahan dan memukul paha korban tiga kali, kemudian menghantam jidat korban sambil mengancam.
Tak lama setelah itu, korban kembali didesak dengan lututnya. Erasmus Wawo menghubungi Kopda Feri Herianto dan sepakat bertemu di Kemayoran.
Di titik pertemuan, Avanza bertemu Fortuner hitam yang dikemudikan Umri dan berisi Johanes Joko serta Mochamad Nasir.
Nasir sempat meminta agar korban dipindahkan setelah mutar-mutar dulu ke Tanjung Priok, namun Erasmus Wawo menolak karena semakin lama korban ditahan, semakin berisiko.
Tangan korban kemudian diikat. Erasmus Wawo memanggil Johanes Joko untuk membantu memindahkan korban ke Fortuner. Saat itu korban sempat berteriak “Tolong, ini penculikan,” namun mulutnya kembali ditutup. Paha korban ditendang dua kali sebelum pintu mobil ditutup.
Setelah pemindahan, Kopda Feri Herianto menyerahkan uang Rp 45 juta kepada Erasmus Wawo sebagai bayaran atas penculikan tersebut. Uang itu kemudian dibagi kepada lima anggota yang terlibat langsung.